TBC: Kau Kukejar, Kau Kutangkap

Sekali lagi, dr. Beny Bernard Kwa berbicara melalui tulisannya tentang bagaimana kita mengakhiri tuberkulosis di muka bumi ini. Tulisan ini merupakan lanjutan dari tulisan sebelumnya (klik TBC: Kisahmu Dulu dan Kini). Berhasilkah kita mengejar dan menangkapnya?

-DoVic 101018-


Judul tulisan ini mengingatkan kita pada sebuah film komedi yang menjadi film terlaris pada tahun 1986 yaitu Kejarlah Daku Kau Kutangkap. Namun, tulisan ini tidak ada kaitannya denga film tersebut. Sebagian besar tulisan ini merupakan rangkuman materi pada kegiatan Short Course Tuberculosis (TB/TBC) yang diselenggarakan oleh Australia Awards Indonesia (klik Dari kanguru kecil Menuju KANGURU BESAR), yang fokus tentang pentingnya penemuan kasus TBC secara aktif (SEARCH) melalui skrining dalam mengatasi permasalahan penyakit TBC. Tentunya masih banyak aktivitas lainnya yang harus diperhatikan untuk tercapainya target END TB.

Indonesia merupakan salah satu dari negara dengan beban TBC tertinggi. Laporan Survei Prevalensi TBC Indonesia tahun 2013-2014, memperkirakan prevalensi TBC sebanyak 1.600.000 kasus. Berdasarkan Global TB Report Tahun 2017 diketahui insiden TBC sebanyak 1.020.000 kasus tahun 2016 serta mortalitas TBC 110.000 kasus. Dengan angka notifikasi kasus tahun 2016 sebanyak 360.565 kasus, maka kasus TBC yang ditemukan di Indonesia baru sekitar 35%, sisanya 65% kasus masih belum diobati atau sudah diobati tetapi belum tercatat oleh program. Mereka yang belum ditemukan menjadi sumber penularan TBC di masyarakat. Ditambah dengan muncul tantangan baru bagi pengendalian TBC, misalnya ko-infeksi TB-HIV, TBC resisten obat (TB-RO), TBC ko-morbid, TBC pada anak dan tantangan lain dengan tingkat kompleksitas yang makin tinggi.

World Health Organisation (WHO) memperkirakan ada sembilan juta orang yang menderita TBC setiap tahunnya. Dari sembilan juta kasus tersebut, hanya enam juta yang didiagnosis dan diobati. Ini artinya ada tiga juta orang per tahun yang menderita TBC, namun tidak terdiagnosis atau tidak diobati, sehingga mereka menderita dan menyebarkan penyakit ini ke maksimum 10 orang per tahun. Selain itu diperkirakan pula dari tiga juta orang yang tidak terdiagnosis mengidap TBC, 570.000 orang diantaranya mengidap TBC yang resisten terhadap obat. Mereka tetap menderita dan menyebarkan penyakit TBC ke orang lain.

Untuk mengakhiri epidemi global TBC, WHO meluncurkan strategi baru pemberantasan TBC yang dinamakan END TB pada bulan Mei 2014 dengan VISI  adalah Dunia yang Bebas TB, yang dirinci dalam bentuk:

  • Nol Kematian karena TB.
  • Nol Penyakit TB.
  • Nol Penderitaan karena TB.

Tujuan strategi ini adalah mengakhiri Epidemi Global TB (< 10 kasus/100.000 penduduk) dengan sasaran berupa:

  1. Pengurangan 95% kematian karena TB (dibandingkan dengan tahun 2015).
  2. Pengurangan 90% kejadian TB (dibandingkan dengan tahun 2015).
  3. Tidak satupun keluarga yang terjangkiti menghabiskan biaya yang luar biasa karena TB.

Strategi END-TB adalah CARI-OBATI-CEGAH (SEARCH-TREAT-PREVENT).

  • CARI (SEARCH)

Mencari kasus secara aktif dan melakukan pengujian secara tepat. Penundaan diagnosa akan menyebabkan peningkatan penularan.

Dalam pencarian kasus harus diidentifikasi kelompok berisiko, temukan kasus secara aktif dan segera hubungkan ke layanan.

Sesuaikan program pencarian kasus berdasarkan data dan epidemiologi lokal, tingkatkan aksesibilitas dan keterlibatan komunitas.

Tingkatkan ketepatan diagnosa dan algoritme klinis.

  • OBATI (TREAT)

Kasus yang ditemukan harus segera diobati dengan obat yang efektif dan cepat. Selama pengobatan diberikan dukungan yang komprehensif.

  • CEGAH (PREVENT)

Mengobati kasus merupakan langkah pencegahan awal, kemudian menentukan kelompok risiko tinggi, lakukan pencegahan.

Lakukan penataan lingkungan untuk mengurang penularan

Indikator, Baseline dan Target Program TBC. Sumber: Presentasi Direktur P2PML dalam Monev TBC di Makassar tahun 2017.

Ujung tombak dalam mengakhiri epidemi TBC adalah Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama dan Tingkat Lanjut.  Fasilitas kesehatan ini diberikan target:

  • Menjangkau minimal 90% seluruh penderita TBC di wilayahnya dan mendapat pengobatan sesuai standar.
  • Menjangkau minimal 90% populasi yang berisiko terkena TBC (populasi kunci).
  • Menghasilkan minimal 90% keberhasilan pengobatan penderita TBC dengan meningkatkan akses layanan, kepatuhan minum obat dengan benar dan mendapat dukungan sosial.

Dengan mengambil tema Peringatan Hari Tuberkulosis Sedunia tahun 2018 “Peduli TBC, Indonesia Sehat” ini, melalui aksi: Temukan Tuberkulosis Obati Sampai Sembuh (TOSS TB), diharapkan dapat meningkatkan kesadaran masyarakat tentang permasalahan TBC. Tema ini juga merupakan upaya meningkatkan peran pemangku kebijakan dan peran serta kelompok masyarakat lainnya dalam mendukung program pengendalian TBC dan mampu menempatkan TBC sebagai isu utama di semua sektor. Selain itu, penyebarluasan informasi tentang TBC kepada masyarakat akan meningkatkan pengetahuan dan kepedulian untuk mencegah penularan TBC. Salah satunya melalui gerakan penggunaan masker bila ada yang menderita batuk dan segera memeriksakan diri untuk memastikan diri sendiri dan/atau keluarganya mendapatkan pemeriksaan dan pengobatan TBC yang tepat dan berkualitas.

Untuk dapat mencapai target tersebut, maka fasilitas kesehatan harus menemukan kasus TBC, baik secara pasif maupun secara aktif.

  • Penemuan kasus tuberkulosis pasif (Passive Case Finding atau PCF) yaitu cara diagnosis TBC yang diinisiasi pasien, yang melibatkan seseorang dengan TBC aktif yang menderita gejala, memiliki akses dan mencari perawatan, kemudian secara tepat diidentifikasi dan didiagnosis oleh petugas kesehatan
  • Penemuan kasus tuberkulosis aktif (Active Case Finding atau ACF) yang merupakan pengidentifikasian sistematis terhadap mereka yang diduga mengidap TBC aktif atau laten, dalam kelompok sasaran yang telah ditentukan, menggunakan tes, pemeriksaan atau prosedur lain yang dapat diterapkan dengan cepat. Dalam kegiatan ini dilakukan skrining sistematis untuk tuberkulosis.

Prinsip utama dalam melakukan penemuan kasus tuberkulosis aktif adalah:

  • Sudah tersedia diagnostik, perawatan, pengobatan, manajemen dan dukungan TBC yang berkualitas untuk pasien, dengan kapasitas memadai untuk dapat ditingkatkan.
  • Prioritas kegiatan pada kelompok risiko untuk skrining.
  • Gunakan algoritma skrining yang tepat.
  • Harus mengikuti prinsip etika yang telah ditetapkan, menghormati hak asasi manusia, dan dirancang untuk meminimalisir risiko ketidaknyamanan, stigma penyakit dan diskriminasi.
  • Sebaiknya dikembangkan dan dilaksanakan dengan cara yang mengoptimalkan sinergi dengan pelaksanaan pelayanan kesehatan dan kegiatan sosial lainnya.
  • Sebaiknya disertai dengan monitoring dan penilaian kembali yang berkelanjutan.

Beberapa alasan dilakukannya  ACF untuk kasus tuberkulosis, yaitu:

  1. Cukup banyak kasus TBC yang tidak terdeteksi karena
    • Diagnosis masih sering tidak dilakukan atau tertunda.
    • Masa infeksi TBC individu yang lebih lama, mengakibatkan terjadi lebih banyak penularan.
    • Diperkirakan sekitar sepertiga dari seluruh insiden kasus TBC aktif tidak didiagnosis dengan benar.
  2. Keterbatasan penemuan kasus pasif melalui pemeriksaan dahak (sputum-smear) dengan mikroskop.
  3. ACF efektif menjangkau populasi termiskin dan paling terabaikan.
  4. Dapat mendeteksi TBC di kelompok rentan lainnya.

Dalam pelaksanaan ACF, dilakukan skrining yang bertujuan untuk mendeteksi TBC aktif secara dini yang berkontribusi mengatasi masalah dengan cara:

  1. Mengurangi risiko hasil buruk bagi pasien.
  2. Mengurangi penularan dengan mengidentifikasi pasien secara dini dan mempersingkat durasi infeksi TBC pada pasien.
  3. Mengidentifikasi mereka yang mengidap infeksi laten agar dapat diberikan terapi pencegahan.

Dengan demikian maka ACF bermanfaat dalam:

  • Menghentikan penularan berarti harus menemukan individu yang mengidap TBC dan segera memulai perawatan yang tepat.
  • Efisiensi strategi untuk secara aktif menemukan kasus dan memastikan perawatan yang efektif dalam lingkungan dengan beban tuberkulosis yang tinggi.

Dalam melaksanakan ACF harus ditentukan target sasaran berupa:

  1. Kontak serumah.
  2. Orang dengan HIV-AIDS (ODHA).
  3. Tenaga pada fasilitas kesehatan.
  4. Kelompok risiko tinggi lain.
  5. Skrining populasi.

WHO memberikan rekomendasi utama:

  1. Kontak dalam rumah tangga dan kontak terdekat lain dari kasus yang aktif.
  2. Orang yang hidup dengan HIV/AIDS.
  3. Pekerja saat ini dan bekas pekerja di lingkungan kerja yang terpapar silica.

Rekomendasi tambahan WHO (populasi yang patut dipertimbangkan untuk diskrining) adalah:

  1. Penjara dan lembaga pemasyarakatan lainnya.
  2. Orang dengan hasil X-ray dada ada fibrotik paru yang belum diobati.
  3. Wilayah dengan prevalensi TB di populasi umum adalah 100/100.000 atau lebih, di antara mereka yang mencari perawatan kesehatan atau yang termasuk ke dalam kelompok risiko terpilih.
  4. Sub populasi yang ditentukan secara geografis dengan tingkat TBC yang tidak terdeteksi yang sangat tinggi (prevalensi 1% atau lebih).
  5. Sub populasi lain yang sangat kurang memiliki akses ke perawatan kesehatan.

Berikut ini adalah ilustrasi tentang penyebaran TBC dengan keterangan sebagai berikut:

Orang berwarna merah adalah penderita TBC.

Orang berwarna merah yang diberi bundaran putih adalah penderita TBC yang diobati sampai sembuh.

Orang berwarna kuning adalah penderta TBC laten.

Orang berwarna putih adalah sehat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *