“Siap Kebas Malaria, Komandan!”

Peringatan Hari Malaria Sedunia (HMS), 25 April 2019, bisa dilakukan dengan berbagai cara dan corak. HMS bisa diperingati dengan seremonial yang meriah atau menggelar forum ilmiah yang serius. HMS bisa pula melibatkan khalayak luas untuk menggugah kesadaran umum akan bahaya malaria bagi kehidupan umat manusia atau bisa pula hanya melibatkan kelompok terbatas dan eksklusif untuk mencari strategi jitu mengakselerasi eliminasi malaria dari peradaban manusia. Penulis sendiri, saat ini berada jauh dari hiruk-pikuk dan gegap gempita peringatan HMS di Papua Barat. Namun, sebagai yang punya atensi atas malaria di Tanah Papua, penulis memperingatinya dengan cara lain.

Sebuah simposium kerja sama Dinas Kesehatan Provinsi Papua Barat dan Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Cabang Manokwari diselenggarakan memperingati HMS 2019.

Pada 25 April 2019, penulis berada di Balai Pelatihan Kesehatan (Bapelkes) Semarang Kantor II yang ada di Salaman, Magelang. Ini bukan kali pertama penulis berada di Bapelkes ini (klik Bukan Hoax: Bertugas di Daerah Risiko Multi Bencana). Penulis berada di tempat ini untuk memberikan pembekalan kepada dua puluh lima Penugasan Khusus Tenaga Kesehatan Individual di Puskesmas yang akan ditempatkan di Provinsi Papua Barat dan Provinsi Papua. Dua puluh empat di antaranya akan mengisi kebutuhan tenaga di Puskesmas Klaso, Puskesmas Klayili dan Puskesmas Sayosa Kabupaten Sorong serta Puskesmas Wayer, Puskesmas Moswaren, Puskesmas Fkour, Puskesmas Saifi dan Puskesmas Kokoda Kabupaten Sorong Selatan. Bersama merekalah, penulis selama lima jam pelajaran (jpl) mendiskusikan Pelayanan Kesehatan di Remote Area (klik Bertugas di Remote Area: Mengatasi Jurang).

Salah satu bahasan materi tersebut berkaitan dengan Program Indonesia Sehat dengan Pendekatan Keluarga (PIS PK). Dalam implementasinya di Papua Barat, indikator PIS PK ditambahkan dengan indikator ketiga belas yang terkait malaria (klik Indikator Tambahan Itu Akhirnya Ditetapkan). Indikator yang berkembang dari sebuah project alumni Australia Awards Indonesia tahun 2016 ini, yang dinamakan KEBAS MALARIA (klik Para Pejuang Malaria dari Tanah Papua), diharapkan dapat mengakselerasi eliminasi malaria di Papua Barat. Kepada mereka penulis meminta, “Karena tidak cukup waktu memberikan pembekalan tentang malaria, saya minta kepada masing-masing profesi untuk belajar secara mandiri dan kemudian mendiskusikan dalam grup WhatsApp yang ada. Yang Ahli Teknologi Laboratorium Medik (ATLM) hendaknya memperdalam kemampuan mikroskopisnya untuk mengidentifikasikan spesies plasmodium. Yang perawat hendaknya mempelajari bagaimana asuhan keperawatan terhadap seorang penderita malaria. Yang apoteker hendaknya mendalami bagaimana pengelolaan Obat Anti Malaria (OAM) di Puskesmas dan mengedukasi masyarakat supaya tidak terjadi resistensi obat. Yang tenaga kesehatan masyarakat hendaknya mempelajari dengan seksama pesan-pesan inti terkait malaria, sehingga dapat memberikan penyuluhan kepada keluarga dan masyarakat dengan tepat dan mendorong utilisasi dengan benar kelambu berinsektisida yang sudah didistribusikan. Yang tenaga kesehatan lingkungan hendaknya mendalami pendekatan lingkungan agar ikut mengurangi tempat perindukan nyamuk Anopheles. Yang bidan hendaknya mempelajari upaya pencegahan dan pengobatan malaria pada ibu hamil. Yang tenaga gizi hendaknya mempelajari bagaimana mencegah dan mengatasi anemia pada ibu hamil, bayi dan balita akibat malaria. Sayangnya kali ini tidak ada dokter umum yang ada dalam penugasan khusus ini.”

“Kami siap kebas malaria dari Tanah Papua, komandan!”

Dengan cara inilah, penulis turut memperingati HMS tahun ini. Senang, melihat sekelompok anak muda yang militan akan mengabdikan dua tahun masa mudanya untuk ikut berkontribusi mengatasi “jurang” di Papua Barat dan mempercepat eliminasi malaria. “Kami siap kebas malaria dari Tanah Papua, komandan!”

-DoVic 250419-

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *