Perjuangan Di Balik Kampanye Imunisasi Measles Rubella

Dalam setiap pencapaian, biasanya ada kisah-kisah heroik yang tidak terceritakan dan diketahui publik. Oleh karena itu, kali ini akan di-posting sebuah tulisan dari para tenaga kesehatan di Kabupaten Pegunungan Arfak yang melakukan pelayanan kesehatan di remote area, termasuk pelayanan dalam rangka kampanye imunisasi Measles Rubella. Di balik angka-angka dan persentase cakupan imunisasi Measles Rubella (klik Akankah Papua Barat Terlindungi dari Ancaman Measles-Rubella?) ada pertaruhan nyawa para petugas kesehatan di lapangan. Apresiasi dan dedikasi patut kita berikan kepada para insan kesehatan yang tulus mengabdi demi kemanusiaan.

DoVic 260918-


MENYEBERANGI JEMBATAN BAMBU DARURAT

Kisah ini bermula ketika kami mau pelayanan imunisasi Measles Rubella dan pelayanan kesehatan lainnya. Berawal dari mobil yang akan menjemput kami – petugas kesehatan di Puskesmas Pembantu Sergemih. Pada waktu hendak menyeberangi sungai, mobil yang tidak berpenumpang itu – hanya ada sopir – terbawa arus sungai dan tenggelam. Untungnya, mobil tidak sampai hanyut, karena ban mobil tersangkut batu besar. Akhirnya mobil dievakuasi dengan menggunakan alat berat.

Seorang dokter merayap di atas jembatan bambu darurat demi bisa melayani masyarakat di kampung seberang sungai

Setelah mobil dievakuasi, jelas mobil tidak bisa berfungsi lagi. Terpaksa kami jalan kaki untuk menuju kampung sebelah (seberang sungai). Karena dalamnya sungai dan derasnya arus sungai, masyarakat berinisiatif membuat jembatan darurat dari bambu, agar petugas dan masyarakat lain bisa menyeberang, Kami harus menyeberang jembatan tersebut tanpa ada pegangan untuk mempertahankan keseimbangan. Bisa dibayangkan apabila salah langkah sedikit saja atau kehilangan keseimbangan kami bisa bernasib sama dengan mobil tersebut. Karena kami tidak memiliki keberanian, akhirnya kami menyeberang jembatan dengan cara merayap. Akhirnya kami sampai di kampung sebelah untuk melayani imunisasi Measles Rubella. Selanjutnya, kami kembali dengan cara yang sama dengan risiko yang sama.

BERAYUN DI JEMBATAN GANTUNG

Perjalanan dari Distrik Anggi ke Distrik Didohu bukan seperti perjalanan dari Manokwari ke Distrik Anggi. Kondisi medan sangat jauh berbeda. Sama halnya dengan Distrik Testega. Di sini masih sisa seperempat perjalanan lagi sampai ke tempat kami bertugas. Dalam kondisi ini, mobil tidak bisa mengakses jalan karena terjebak longsor. Tidak mungkin bagi kami untuk kembali ke Manokwari. Jadi mau tidak mau, kuat tidak kuat, kami harus berjalan kaki selama lebih dari lima jam dengan membawa barang-barang kami. Kesulitan yang kami hadapi pun sama dengan yang dihadapi teman-teman di Distrik lain yang memiliki kondisi yang sama. Kurangnya cakupan dan sedikitnya kampung atau masyarakat yang dilayani tidak lain adalah karena keterbatasan transportasi dan kondisi medan yang memang kadang susah dijelaskan dalam sebuah cerita. Hanya bisa dipahami dan dimaklumi dari peninjauan langsung ke lapangan.

Para tenaga kesehatan sedang menantang bahaya menyeberangi sebuah jembatan gantung yang lapuk

Perjalanan menuju Kampung Medodga ditempuh selama dua hari dengan berjalan kaki. Kami harus melalui jembatan gantung yang sangat mengerikan karena jembatan ini sudah mau roboh, sudah lapuk dan talinya sudah mau putus, sehingga kami berasa diayun di atas jembatan kecil itu. Kalau melihat ke bawah rasanya sangat takut karena air yang begitu deras. Kami harus berjalan mendaki gunung dan tebing-tebing yang sangat tinggi dan harus berpegangan pada akar-akar pohon. Kalau terpeleset bisa langsung jatuh

 ke jurang. Di dalam perjalanan kami juga sempat kehujanan, sehingga jalan sangat licin. Sepanjang jalan yang kami lalui adalah hutan. Kami sempat kehausan, karena kehabisan air minum. Ingin rasanya menginap di jalan saja, tapi tidak mungkin. Jadi kami terus jalan. Kadang kami berhenti, karena gunungnya tinggi sekali dan nafas kami sudah tersengal-sengal. Apalagi sambil berjalan kami juga memikul obat-obatan. Tetapi saat kami di Kampung Moufukeda dan melihat masyarakat yang sudah menunggu kami, rasa capek kami terobati. Mereka jarang tersentuh oleh pelayanan tenaga kesehatan. Kami langsung memberikan pelayanan kepada ibu hamil, bayi, balita dan seluruh masyarakat. Kami menginap di kampung tersebut. Esok paginya kami melanjutkan perjalanan ke Kampung Medodga dengan medan yang lebih berat lagi. Kami tiba di Kampung Medodga ketika hari sudah mulai gelap. Kami langsung berganti baju dan melakukan pelayanan di empat kampung yang ada di seputaran Kampung Medodga. Pelayanan kami lakukan sampai malam. Besok paginya kami melanjutkan perjalanan pulang dengan turun gunung terus. Di situ kami sering terjatuh, karena jalannya licin dan banyak akar-akar. Kami mengalami luka-luka ringan. Akhirnya, kami tiba di Kampung Testega sore hari dengan selamat dan penuh rasa bahagia.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *