Penyalahgunaan Alkohol Kronis dan Hepatitis: Siapa Mau Urus?

Jikalau menyimak tulisan terdahulu (klik Waspadailah Penyakit-Penyakit Maut Ini!), sebagian pembaca mungkin terperangah dan bertanya apakah benar cirrhosis menjadi penyebab kematian tertinggi ke-lima di Provinsi Papua Barat pada tahun 2017? Kalau stroke, penyakit jantung ischemic, kencing manis dan tuberculosis menjadi empat penyebab kematian tertinggi di Papua Barat, masih bisa masuk nalar. Tetapi bagaimana menjelaskan cirrhosis menjadi penyebab kematian tertinggi berikutnya. Sementara, pada tahun 1990 cirrhosis menempati urutan ke-tujuh. Bila dibandingkan dengan Provinsi Papua, maka cirrhosis menjadi penyebab kematian tertinggi urutan ke-sebelas pada tahun 1990 dan menjadi urutan ke-sepuluh pada tahun 2017. Apa sebenarnya cirrhosis itu?

Cirrhosis atau sirosis hepatis adalah kerusakan hati kronis dari berbagai penyebab yang mengarah ke jaringan parut dan gagal hati. Penyalahgunaan alkohol kronis dan hepatitis sering menjadi penyebabnya. Kerusakan hati karena sirosis tidak bisa dipulihkan, tetapi kerusakan lebih lanjut dapat dicegah.

Apakah angka penyalahgunaan alkohol di Papua Barat tinggi, sehingga cirrhosis juga tinggi? Hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018 memperlihatkan bahwa proporsi konsumsi minuman beralkohol yang berlebihan/berbahaya pada penduduk umur ≥10 tahun dalam sebulan terakhir di Provinsi Papua Barat menempati peringkat tertinggi ke-enam setelah Provinsi Nusa Tenggara Timur, Bali, Sulawesi Utara, Maluku dan Sulawesi Tengah. Lebih tinggi daripada Provinsi Papua yang menempati urutan ke-sembilan. Fakta yang menyedihkan adalah perilaku mengkonsumsi minuman beralkohol dalam sebulan terakhir juga dijumpai pada kelompok umur muda, yaitu 10-14 tahun. Bila perilaku pada usia muda ini tidak segera dihentikan atau setidaknya dibatasi agar tidak melampaui batas standar minuman beralkohol, maka kecenderungannya akan mengarah kepada penyalahgunaan alkohol kronis yang memperbesar kemungkinan terjadinya sirosis hepatis.

Bagaimana dengan hepatitis? Hepatitis adalah peradangan pada hati karena toksin, seperti kimia atau obat ataupun karena agen penyebab infeksi (virus). Hepatitis akibat virus yang dikenal sampai saat ini adalah hepatitis virus A, B, C, D, E dan G. Tidak semua jenis hepatitis akibat virus mengarah pada sirosis dan/atau kanker hati, di antaranya yang paling sering adalah hepatitis B. Menurut hasil Riskesdas 2018, prevalensi hepatitis (secara keseluruhan) berdasarkan diagnosis dokter (umum atau spesialis) di Provinsi Papua Barat adalah 0,4%, kurang lebih sama dengan rata-rata nasional. Sedangkan prevalensi di Provinsi Papua tertinggi dibandingkan Provinsi lainnya di Indonesia, yaitu pada kisaran 0,7%. Prevalensi hepatitis di Provinsi Papua Barat dan Provinsi Papua pada tahun 2018 meningkat dibandingkan tahun 2013, menurut Riskesdas.

Pada tahun 2006, penulis pernah melakukan studi pustaka dalam rangka pembuatan tesis Program Master di bidang Mikrobiologi Kedokteran. Data-data awal epidemiologi tentang hepatitis di Tanah Papua yang terdokumentasikan adalah di sekitar tahun 1990-an. Kita harus berterima kasih kepada Bernardus Sandjaja, seorang peneliti dari Provinsi Papua, yang melakukan beberapa penelitian terkait hepatitis di Tanah Papua. Di antaranya diperoleh data bahwa angka carrier di antara pendonor darah sukarela di Provinsi Irian Jaya sebesar 10,5%.

Sepanjang yang penulis ketahui, sampai saat ini belum banyak dilakukan upaya komprehensif untuk mengatasi penyalahgunaan alkohol kronis di Papua Barat, baik dari sisi preventif dan promotif maupun dari sisi rehabilitatifnya. Sementara itu, upaya menurunkan prevalensi hepatitis B – selain pemberian imunisasi HB0, 1, 2, 3 pada bayi – pada kelompok rentan baru pada Kabupaten/Kota tertentu di Papua Barat.

Jika upaya menurunkan Penyakit Tidak Menular (PTM) dan tuberculosis semakin gencar dan sebaliknya upaya mengatasi kedua isu kesehatan di atas masih setengah-setengah dan kurang terpadu, bukan tidak mungkin pada analisis Beban Penyakit atau Burden of Disease (BOD) berikutnya, cirrhosis didapati naik anak tangga yang lebih atas.

Tulisan ini bisa saja diabaikan. Namun, jangan sampai lima sampai sepuluh tahun mendatang di antara pembaca ada yang merasa de javu.

-DoVic 110619-

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *