“Membangun Budaya Kerja ASN”

Budaya kerja Pegawai Negeri Sipil (PNS) masih dipandang oleh sebelah mata; lambat, birokratis, malas, dan biaya tinggi. Namun di satu pihak yang lain berpandangan sebaliknya. Bahwa budaya kerja PNS sudah berangsur membaik, ditandai dengan membaiknya pelayanan kepada masyarakat.

Terlepas dari dua pandangan berbeda di atas, yang pasti budaya kerja PNS harus ditingkatkan. Tujuannya adalah untuk menciptakan sistem yang mampu mengembangkan profesionalisme dan lingkungan yang kondusif dalam rangka mendukung pencapaian tugas.

Paling tidak ada lima syarat yang harus dipenuhi dalam rangka meningkatkan budaya kerja PNS.

  1. Ada nilai yang mendukung pencapaian visi.
  2. Ada motivasi yang mampu memacu kerja seorang pegawai.
  3. Ada ide dan strategi yang tepat.
  4. Ada tujuan bersama yang jelas.
  5. Etika kerja yang ditumbuhkan melalui sistem (meritokrasi, remunerasi, dan lain sebagainya).
  • Nilai. Berbagai pihak meyakini bahwa nilai dapat menggerakkan etos seseorang. Dengannya seseorang dapat menjadi gigih, sungguh-sungguh dalam bekerja, memiliki komitmen yang tinggi, dan lain sebagainya. Banyak contoh dapat disebut di sini untuk menunjukkan bahwa nilai sangat berpengaruh bagi seseorang dalam bekerja maupun berusaha. Keberhasilan gerakan sosialisme, kapitalisme, gender, dan termasuk keberhasilan Indonesia merdeka dari kolonialisme adalah karena bermula dari keyakinan terhadap kebenaran suatu nilai yang diperjuangkannya.
    Mengapa nilai begitu berpengaruh? Penyebabnya tidak lain adalah karena pada dasarnya hampir tidak ada seorang pun yang tidak memiliki suatu makna hidup. Pekerjaannya sekarang adalah menginternalisasikan suatu nilai terhadap segenap aparatur secara sistematif. Disinilah diperlukan pemikiran cerdas, cermat serta pragmatis konsepsional dalam rangka transformasi nilai dalam upaya membangun budaya kerja yang progresif.
  • Motivasi. Tanpa adanya motivasi, bekerja menjadi hampa. Efek negatifnya bekerja menjadi lambat selesai, sering meleset dari target waktu yang telah ditentukan dan tidak efektif. Pertanyaannya sekarang adalah bagaimana motivasi itu tumbuh. Orang bijak mengatakan bahwa motivasi itu ada dalam diri seseorang jika kepentingan seseorang tersebut ada didalamnya. Untuk itu, dibutuhkan kerja cerdas bagaimana mengemas kepentingan-kepentingan setiap individu secara apik tanpa mengorbankan kepentingan lain yang lebih besar. Di sinilah dibutuhkan  kearifan membuat kebijakan dan menyusun program kerja sebagai acuan dalam pelaksanaan kegiatan organisasi yang mudah dimengerti, dipahami, dan dilaksanakan oleh setiap orang dalam organisasi tersebut.

  • Ide dan strategi tepat. Ide adalah gagasan tentang sesuatu hal. Sedangkan strategi adalah cara pencapaian berdasarkan pertimbangan-pertimbangan obyektif (sosial, politik, ekonomi, hukum dan lain sebagainya). Dalam hal ide dan strategi ini, satu hal yang mesti dimiliki oleh pegawai negeri adalah adanya jiwa berwirausaha atau entreprenuer. Yaitu kermampuan menggunakan sumber daya dengan cara baru untuk memaksimalkan produktivitas dan efektivitas (David Obsborne: 2000; 18). Dengan modal ini para pegawai akan senantiasa mampu menbaca peluang secara positif untuk menggerakkan segenap kemampuannya dalam rangka pencapaian mission organitation.
  • Tujuan bersama. Adalah mustahil sebuah misi akan tercapai kalau orang-orang yang ada di dalamnya memiliki tujuan yang berbeda. Meneg PAN Taufiq Effendi selalu mengatakan bahwa guna mencapai pada sesuatu yang dicita-citakan bersama maka harus ada kesamaan persepsi dan juga kesamaan tujuan. Dengan kesamaan ini maka seluruh energi akan tercurah pada satu titik yang menjadi cita-cita bersama tersebut. Di sinilah sebenarnya dibutuhkan komunikasi intensif, keterbukaan dan kebersamaan.
  • Etika kinerja. Dalam rangka memantapkan etika kinerja, hal mendasar yang perlu ditegaskan adalah soal job discription. Masing-masing pegawai harus memahami secara baik apa saja yang menjadi tugas pekerjaannya. Jangan sampai seorang pegawai menjuadi sangat sibuk tetapi tidak mengerjakan pekerjaan pokoknya. Di sinilah tugas seorang atasan senantiasa memberikan arahan-arahan pegawai yang menyangkut tugas pokok dan fungsi pegawai yang bersangkutan. Hal lain yang harus ditegaskan juga kaitannya dengan masalah etika kerja ini adalah soal reward and punishment. Untuk menjalankan reward and punishment ini perlu dibarengi dengan kejelasan pola karier jabatan, penempatan berdasarkan keahlian, remunerasi dan meritokrasi.
  • Melaksanakan Paradigma Baru. Perubahan besar sistem sosial politik, ekonomi, dan lain-lain telah mendorong masyarakat luas menjadi semakin kritis dan paham terhadap hak-haknya. Berbarengan dengan itu, maka mau tidak mau PNS harus mampu mengimbangi kecerdasan dan kepekaan masyarakat yang berkembang pesat. Di antara cara yang dapat ditempuh adalah dengan melaksanakan paradigma baru.

PNS dan juga pejabat negara adalah pamong praja, yaitu abdi dan pelayan masyarakat. Tugasnya adalah memberikan pelayanan secara menyenangkan kepada masyarakat tentang apa saja yang menjadi kepentingan-kepentingannya. Persoalannya sekarang adalah masih ada sebagian pihak yang sering memanjakan aparatur negara dengan cara memberikan fasilitas-fasilitas lebih sehingga memaksa aparatur negara kembali berparadigma lama.

Sekarang ini hasrat pegawai untuk menyenangkan masyarakat sudah tumbuh menggembirakan. Di berberbagai daerah sudah digalakan tentang bagaimana (misalnya) memberikan pelayanan secara cepat, tepat, dan murah. Sebut saja sebagai contoh kecil adalah merebaknya penerapan model pelayanan satu pintu, dimana masyarakat cukup datang ke satu kantor mulai dari soal pendaftaran sampai urusan seleksi. Berikutnya, sejak awal diangkat setiap pegawai telah diambil sumpahnya di bawah persaksian kiab suci untuk menjalankan amanah jabatan itu secara konsekuen. Namun, lagi-lagi amanah itu ternodai karena berbagai hal. Untuk itu, perlu diciptakan sistem yang mampu mengawal sumpah sehingga dapat dilaksanakan secara konsisten.
Banyak faktor yang menyebabkan amanah kurang dapat diaplikasikan secara maksimal. Bisa jadi itu disebabkan oleh pibadinya yang bermasalah, atau bisa juga disebabkan oleh sistemnya yang tidak mendukung, dan tidak menutup kemungkinan disebabkan oleh dua-duanya; pribadinya bermasalah dan sistemnya tidak benar. Untuk itu diperlukan upaya terus menerus untuk membenahi pribadi-pribadi bermasalah dan sistem yang salah.

Dari paradigma di atas perlu dirasakan getarannya oleh masyarakat, sehingga tidak hanya menjadi untaian kata-kata indah. Caranya, segenap aparatur negara harus terus bekerja dan berkarya membuktikan bahwa dirinya adalah pelayan masyarakat yang baik.

~GIVE UP~

“MEMBUAT RENCANA ADALAH MUDAH”

“MEMBUAT RENCANA YANG BAIK TIDAK SEMUDAH ITU”

“TAPI YANG PALING SULIT ADALAH MERENCANAKAN RENCANA YANG SEDERHANA DENGAN BAIK”

“YANG DIPERLUKAN ADALAH BAGAIMANA KITA MENGHADAPI RINTANGAN TERSEBUT”

“APAKAH KITA MAU BERUSAHA MENGATASINYA ATAU DIJADIKAN ALASAN UNTUK BERHENTI ATAU MENYERAH”

“ANGIN TIDAK BERHEMBUS UNTUK MENGGOYANGKAN PEPOHONAN MELAINKAN MENGUJI KEKUATAN AKARNYA”

“DENGAN PIKIRAN YANG POSITIF DAN OPTIMISME YANG TINGGI KITA AKAN SIAP MENGHADAPI PERUBAHAN”

print

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *