Malaria Bukanlah Pembunuh Paling Menakutkan Lagi!

Semasa menjadi Kepala Puskesmas Bintuni, Kabupaten Manokwari, Provinsi Irian Jaya lebih dari dua puluh tahun yang lalu, satu jenis tugas yang cukup mencemaskan penulis adalah mengawal kedatangan dan penempatan para transmigran. Satu rombongan transmigran yang rata-rata terdiri atas 150-300 orang, biasanya ditempatkan di gedung transito Kecamatan Bintuni, setelah mereka menempuh perjalanan lama dan melelahkan dari daerah asal mereka, yang umumnya dari Jawa. Saat itu, salah satu penyakit yang dianggap paling mematikan jika memasuki wilayah Irian Jaya adalah malaria. Dari para tenaga kesehatan sebelumnya diperoleh informasi bahwa waktu penempatan para transmigran di wilayah Prafi Kabupaten Manokwari, bisa dijumpai penguburan warga transmigran yang meninggal akibat malaria setiap hari. Kala itu, malaria begitu ditakuti oleh siapapun.

Penulis bersama jajaran kesehatan Puskesmas Bintuni, Kabupaten Manokwari.

Yang umum dilakukan dokter dan tenaga kesehatan lainnya di Puskesmas Bintuni adalah membagikan tablet klorokuin sebagai profilaksis kepada setiap warga transmigran, termasuk anak-anak; memeriksa kesehatan mereka dan mengobatinya jika mereka mengalami keluhan yang mengarah pada penyakit malaria. Tidak jarang, mereka harus dirawat dan diinfus di Puskesmas dan diberikan drip Quinine Dihydrochloride sampai sembuh. Penyuluhan mengenali gejala penyakit malaria dan cara pencegahannya mutlak dilakukan. Pada saat itu, gejala trias klasik malaria masih sering dijumpai, yaitu periode demam, yang diikuti periode menggigil dan selanjutnya berkeringat. Kemudian penderita memasuki periode tanpa gejala, seolah-olah telah sembuh. Namun, bila tidak diobati siklus gejala klasik tadi akan berulang secara periodik tergantung jenis plasmodium penyebabnya. Jika tersedia, kepada para warga transmigran dibagikan kelambu sebagai perlindungan di waktu tidur.

Menjaga kesehatan para warga transmigran selama di transito, bukanlah satu-satunya tugas yang harus dilakukan. Ketika mereka sudah ditempatkan di rumah-rumah pada Satuan Pemukiman (SP) yang disediakan Departemen Transmigrasi, sejumlah upaya harus dilakukan juga. Melakukan Indoor Residual Spraying (IRS) adalah salah satunya. Biasanya kegiatan IRS ini didukung oleh Dinas Kesehatan Kabupaten Manokwari (klik Go Bintuni Go). Memastikan ketersediaan obat anti malaria dan obat-obat lainnya pada Puskesmas Pembantu di SP tersebut adalah hal yang penting. Selain itu, bekerja sama dengan Kepala Unit Pemukiman Transmigrasi (Ka UPT) setempat agar menggerakan para warga transmigran menjaga lingkungannya secara rutin juga dilakukan. Hal ini dimaksudkan untuk meniadakan tempat perindukan (breeding place) jentik nyamuk Anopheles di sekitar tempat tinggal mereka.

Itu kisah penulis tentang kondisi lebih dari dua dekade yang lalu. Malaria menjadi salah satu penyakit pembunuh paling menakutkan di Irian Jaya atau yang kita sebut Papua sekarang. Data dari Buku Analisis Beban Penyakit Nasional dan Sub Nasional Indonesia 2017 (klik Waspadailah Penyakit-Penyakit Maut Ini!) menguatkan hal tersebut. Malaria menjadi penyebab kematian tertinggi peringkat ke-8 di Papua Barat pada tahun 1990.

Bagaimana saat ini? Tidak lagi. Bahkan, malaria tidak termasuk dua puluh penyebab kematian tertinggi di Papua Barat pada tahun 2017. Saat ini, bagi para pelancong yang akan ke Tanah Papua tidak diwajibkan lagi minum profilaksis. Cukup dengan melakukan personal protection saja. Sebagai pelaku kesehatan yang mengamati perkembangan kesehatan di Provinsi Papua Barat, penulis menilai bahwa transisi epidemiologi ini adalah faktual. Tentu, ini adalah hal yang menggembirakan bahwa berbagai upaya kita mulai menunjukkan hasil (klik Para Pejuang Malaria dari Tanah Papua, Malaria: Kitong Pu Anak-Anak Tra Kosong).

Fakta serupa juga bisa kita jumpai dengan beberapa penyakit menular lainnya. Menurut Buku Analisis Beban Penyakit Nasional dan Sub Nasional Indonesia 2017, pada tahun 1990, tetanus, measles dan meningitis masih menduduki urutan ke-12, ke-16 dan ke-19 penyebab kematian tertinggi, namun pada tahun 2017 sudah tidak masuk dalam dua puluh besar. Sekali lagi, hal ini dapat diraih bukan tanpa upaya (klik Perjuangan Di Balik Kampanye Imunisasi Measles Rubella, “Congrats … Papua Barat!”).

Semoga, penulis masih berkesempatan menyaksikan Papua Barat atau setidaknya Bintuni memasuki eliminasi malaria beberapa tahun mendatang.

-DoVic 040619-

 

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *