Kami Siap Menjadikan Bulan Kaki Gajah 100 %

Filariasis atau yang dikenal dengan penyakit kaki gajah merupakan penyakit yang disebabkan oleh infeksi cacing filaria dari kelompok nematode yaitu wucheria brancofti, brugiamalayi dan brugiatimori. Cacing dewasa (betina) akan menghasilkan larva (mikrofilaria) yang akan bermigrasi kedalam system peredaran darah, hidup dan merusak seluruh getah bening tidak dapat tersalurkan dengan baik dan menyebabkan pembengkakan pada tungkai, lengan serta bagian tubuh lainnya. Cacing ini mampu bertahan hidup selama 5 – 7 tahun didalam kelenjar getah bening.

Hampir seluruh wilayah Indonesia adalah daerah endemis filariasis, terutama wilayah Indonesia Timur yang memiliki prevalensi lebih tinggi. Hasil laporan kasus klinis kronis filariasis dari kabupaten/kota yang ditindaklanjuti dengan survey endemisitas filariasis, sampai dengan tahun 2009 terdapat 337 kabupaten/kota endemis dan 135 kabupaten/kota non endemis. Penyakit Kaki Gajah (Filariasis) masih menjadi masalah kesehatan masyarakat  di Indonesia. Penyakit ini ditularkan oleh berbagai jenis nyamuk. Diperkirakan sekitar 1/5 penduduk dunia atau 1,1 milyar penduduk  di  83 negara berisiko terinfeksi filariasis, terutama di daerah tropis dan beberapa daerah subtropis. Penyakit ini dapat menyebabkan kecacatan, stigma sosial, hambatan psikososial dan penurunan produktivitas kerja penderita, keluarga dan masyarakat sehingga menimbulkan kerugian ekonomi yang besar. Penderita menjadi beban keluarga dan negara. Sampai dengan tahun 2012 dilaporkan lebih dari 11.903 kasus klinis filariasis di Indonesia yang kebanyakan tinggal di pedesaan. Kabupaten/kota endemis filariasis sampai saat ini sebanyak 300 kabupaten/kotad ari 497 kabupaten/kota di Indonesia. Selain di Indonesia, filariasis juga terdapat di 83 negara di daerah tropis dan subtropics seperti India, Afrika, Asia Tenggara, Asia Selatan dan Amerika Latin dengan jumlah penderita sekitar 120 juta orang, 40 juta diantaranya sudah cacat menetap sehingga menjadi penyebab dari masalah kemiskinan.

Untuk memberantas penyakit ini sampai tidak menjadi masalah kesehatan masyarakat lagi, pada tahun 2000 WHO telah menetapkan kesepakatan Global untuk melakukan eliminasi filariasis pada tahun 2020 (The Global Goal of Elimination of Lymphatic Filariasis as a Public Health Problem by the Year 2020). Indonesia sepakat untuk melaksanakan eliminasi penyakit kaki gajah secara bertahap di mulai pada tahun 2002 dan telah menetapkan program eliminasi penyakit ini sebagai salah satu program prioritas Kementerian Kesehatan. Pada bulan Oktober tahun 2017 salah satu kegiatan yang dilaksanakan oleh Kabupaten/Kota di Provinsi Papua Barat adalah pengobatan untuk pencegahan melalui pemberian obat pencegahan massal (POPM) filariasis.

Di sisilain ,kecacingan masih merupakan masalah kesehatan masyarakat di berbagai belahan dunia termasuk di Indonesia. Kecacingan menggambarkan masalah kesehatan masyarakat khususnya di daerah tropis dimana kondisi sanitasi masih belum memadai. Ada tiga jenis cacing yang umumnya menginfeksi anak-anak, khususnya usia prasekolah dan memberikan dampak yaitu: Ascaris lumbricoides (cacing gelang), Ancylostoma duodenale (cacing tambang) dan Trichiuristrichiura (cacing cambuk). Cacingan secara umum mengakibatkan kerugian langsung oleh karena adanya gangguan pada intake makanan, pencernaan, penyerapan serta metabolismenya. Secara kumulatif, infeksi cacing atau cacingan dapat menimbulkan kerugian gizi berupa kekurangan kalori dan protein serta kehilangan darah. Hal ini akan mengakibatkan hambatan perkembangan fisik, kecerdasan dan produktifitas kerja, dapat menurunkan ketahanan tubuh sehingga mudah terkena penyakit lainnya. Kecacingan terbukti memberikan dampak yang sangat nyata bagi kesehatan anak. Infeksi cacing berhubungan erat dengan kehilangan mikronutrien, malabsorbsi vitamin A pada anak prasekolah yang mengakibatkan malnutrisi, anemi dan retardasi pertumbuhan (Stunting).

Stunting adalah Kondisi gagal tumbuh pada anak balita (bayi di bawah lima tahun). Akibat dari kekurangan gizi kronis sehingga anak terlalu pendek untuk usianya. Di Indonesia, sekitar 37% (hampir 9 Juta) anak balita mengalami stunting (RisetKesehatan Dasar/Riskesdas 2013) dan di seluruh dunia, Indonesia adalah Negara dengan prevalensi stunting kelima terbesar. Balita/Baduta (Bayi dibawah usiaDuaTahun) yang mengalami stunting akan memiliki tingkat kecerdasan tidak maksimal, menjadi anak akan menjadi lebih rentan terhadap penyakit dan di masa depan dapat beresiko pada menurunnya tingkat produktivitas. Pada akhirnya secara Luas stunting akan dapat menghambat pertumbuhan ekonomi, meningkatkan kemiskinan dan memperlebar ketimpangan.

Berkaitan dengan hal tersebut , pemerintah melaksanakan kegiatan Pemberian Obat Pencegahan Massal untuk dapat mengelimminasi penyakit filariasis dan kecacingan yang dilakukan secara serempak pada bulan Oktober 2018  dengan sasaran anak usia 2  sd 70 tahun yang dilakukan selama 5 tahun berturut turut dengan cakupan minimal 65 % dari  total penduduk, untuk mensukseskan program tersebut maka sangat diperlukan kegiatan Sosialiasi dan Advokasi tingkat kabupaten dan puskesmas di provinsi Papaua Barat di tahun 2018 . maka pada tanggal 17 – 19 September 2018 kegiatan dimaksud dilaksanakan di Kabupaten Fakfak, pada kegiatan ini pula Bupati Kabupaten Fakfak disela memberikan arahan Bupati juga menyatakan sikap bahwa kegiatan Pemberian Obat Pencegahan Massal POPM Filariasis akan di kampung-kampung dan Distrik di Kabupaten Fakfak, pada araha juga Bupati Kabupaten Fakfak akan mengadakan pertemuan dengan seluruh Kepala Distrik dan Kepala Kampung di Kabupaten Fakfak untuk dapat mengsukseskan Kegiatan Pemberian Obat Kaki Gajah kepada seluruh masyarakat.

Dengan adanya pertemuan ini Dinas Kesehatan Kabupaten Fakfak yang di Pimpin Oleh Kepala Dinas Kesehatan menyatakan sikap dengan komitmen Target Pemberian Obat Masal Filiariasis 100%.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *