Indikator Tambahan Itu Akhirnya Ditetapkan

Melalui Surat Keputusan Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Papua Barat nomor 440/2470/DK-PB/X/2018 tertanggal 22 Oktober 2018 telah ditetapkan indikator tambahan dalam pelaksanaan Program Indonesia Sehat dengan Pendekatan Keluarga (PIS PK) di Provinsi Papua Barat. Apa tepatnya indikator tambahan yang ditetapkan sebagai indikator ke-tigabelas dalam PIS PK ini? Indikatornya adalah “Keluarga yang menderita malaria mendapat pemeriksaan dan pengobatan sesuai standar”. Pasal 3 ayat (2) Peraturan Menteri Kesehatan nomor 39 tahun 2016 tentang Pedoman Penyelenggaraan PIS PK memberikan peluang kepada Pemerintah Daerah untuk menetapkan indikator tambahan selain dua belas indikator nasional sesuai dengan kondisi dan kebutuhan daerah.

Suasana pembahasan dan penetapan Surat Keputusan Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Papua Barat tentang Indikator Tambahan PIS PK di Provinsi Papua Barat

“Walaupun indikator tambahan ini baru ditetapkan sekarang, namun persiapan dan pelaksanaan uji cobanya telah berlangsung mulai awal tahun 2017,” kata dr. Victor Eka Nugrahaputra, M.Kes., Kepala Bidang Pelayanan Kesehatan Dinas Kesehatan Provinsi Papua Barat. “Isu ini telah diangkat menjadi subtema sentral pelaksanaan Rapat Koordinasi Teknis Kesehatan Daerah (Rakorniskesda) Provinsi Papua Barat Tahun 2017 yang dilaksanakan di Aimas Convention Center Kabupaten Sorong pada tanggal 3 sampai dengan tanggal 5 Maret 2017. Subtemanya adalah Sinergi Provinsi dan Kabupaten/Kota dalam Pencapaian Indikator Kesehatan melalui Pendekatan Keluarga di Provinsi Papua Barat. Rakorniskesda tersebut telah menghasilkan sejumlah rekomendasi. Bagian A butir (5) dari rekomendasi tersebut menyatakan Dinas Kesehatan Provinsi Papua Barat akan melakukan kajian untuk menambahkan indikator tambahan dalam PIS PK. Salah satu usulan indikator tambahan adalah berkaitan dengan pencegahan dan pengendalian malaria,” lanjut dr. Victor, salah satu penginisiasi indikator ini.

Pinkesga Indikator ke-13 digunakan sebagai media komunikasi dan informasi pada saat kunjungan keluarga.

Untuk segera menindaklanjuti butir rekomendasi tersebut, pada tanggal 23 Maret 2017 tim telah merumuskan indikator tambahan yang dimaksud, yang selanjutnya disosialisasikan kepada lintas bidang dan lintas program serta lintas stakeholder pada tanggal 27 Maret 2017. Selanjutnya, tim pada Bidang Pelayanan Kesehatan mengembangkan Profil Kesehatan Keluarga (Prokesga) untuk indikator tambahan yang digunakan dalam pengumpulan data PIS PK saat kunjungan keluarga. Aplikasi manual dengan menggunakan excel juga dikembangkan bersama dr. Arte Pisceska dari Unicef. Sedangkan Paket Informasi dan Edukasi Keluarga Sehat (Pinkesga) untuk indikator tambahan dikembangkan oleh dr. I Made Linggawijaya, konsultan dari KOMPAK. “Saya juga menyusun sebuah modul ajar tentang Pelayanan Malaria di Keluarga yang menjadi Modul Inti 8 yang akan diberikan pada Pelatihan Keluarga Sehat. Modul ini dikemas untuk proses pembelajaran sebanyak minimal dua jam pembelajaran (jpl),” kata dr. Victor melanjutkan. Ketika sebagian besar aspek sudah siap, maka Pelatihan Keluarga Sehat dilaksanakan pada akhir Maret dan bulan April 2017. Data-data dari indikator tambahan ini juga telah menjadi bagian dalam Pelatihan Manajemen Puskesmas yang dilaksanakan di Provinsi Papua Barat.

 

Buku ini menjadi sumber informasi tentang malaria bagi keluarga.

Untuk lebih mempermudah pemahaman tenaga kesehatan di Puskesmas dan kader dalam proses pembelajaran dan komunikasi tentang materi Pelayanan Malaria di Keluarga, maka dikembangkanlah personifikasi keluarga yang bebas malaria (Kebas Malaria). Keluarga tersebut terdiri atas KEnny, bapa BAS, MALA dan mama maRIA (KEBAS MALARIA). Bapa BAS dan mama maRIA adalah bapak dan ibu dalam keluarga tersebut, KEnny adalah anak laki-laki sulung yang sudah menginjak remaja dan MALA adalah adik perempuan KEnny yang masih balita. Keluarga ini diharapkan menjadi keluarga yang bebas malaria. Maksudnya adalah keluarga yang (1) bebas dari ketidaktahuan informasi tentang malaria, (2) bebas dari ketidaktepatan penggunaan kelambu anti nyamuk, dan (3) bebas dari ketidakpatuhan minum obat anti malaria bagi penderita. Untuk mengemas berbagai informasi dasar tentang malaria guna mewujudkan Tiga Bebas tersebut, dr. I Made Linggawijaya dan KOMPAK telah mengembangkan Buku Keluarga Bebas Malaria. Buku ini dibuat bergambar dan berwarna serta bersifat interaktif, agar menarik minat baca keluarga.

Yang masih menjadi kelemahan dalam pelaksanaan indikator tambahan PIS PK ini adalah belum dapat diketahuinya data secara real time dan mencakup wilayah Kabupaten/Kota dan Provinsi. “Kita masih perlu mengembangkan aplikasi on line, agar dapat mengetahui secara real time berapa Indeks Keluarga Sehat (IKS) wilayah Kabupaten/Kota dan Provinsi Papua Barat,” harap dr. Victor. Data baru dapat dimanfaatkan oleh Puskesmas secara manual dengan menggunakan aplikasi excel.

Dengan penetapan ini diharapkan eliminasi malaria di Kabupaten/Kota se-Provinsi Papua Barat dapat diakselerasi.

-DoVic 221018-.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *