Dunia Tidak Lagi Sunyi

Berikut ini kisah lain Tim Pelayanan Kesehatan Bergerak (PKB) Dinas Kesehatan Provinsi Papua Barat pada saat melakukan pelayanan kesehatan di Kabupaten Teluk Wondama. Kisah pelayanan mereka di Kabupaten Raja Ampat sudah disajikan di sini (klik Gelombang Cinta di Kabare). Kisah ini di-posting tepat pada tanggal 10 November 2018 ketika Bangsa Indonesia sedang memperingati Hari Pahlawan dan menjelang peringatan Hari Kesehatan Nasional ke 54. Apresiasi kepada seluruh tenaga kesehatan yang setia mengabdi, baik di gunung-gunung, di lembah-lembah, di pesisir, di pedesaan maupun di perkotaan, di seluruh Tanah Papua. Anda adalah “pahlawan-pahlawan” kesehatan masa kini bagi masyarakat.

-DoVic 231118-


Selepas Sholat Dhuhur, di Rasiei, jam 12.30 WIT tanggal 23 Juli 2018, Tim Pelayanan Kesehatan Bergerak (PKB) Dinas Kesehatan Provinsi Papua Barat, bersiap siap untuk bergerak ke salah satu kampung yang jarang tersentuh petugas kesehatan karena jarak yang cukup jauh dari Rasiei, ibu kota Kabupaten Teluk Wondama.

Kampung itu bernama Sararti dan Wombu, terletak di Distrik Naikere. Hanya ada satu Puskesmas yang ada distrik ini yaitu Puskesmas Naikere, sedangkan di Sararti dan Wombu pernah ada pustu, namun kondisinya saat ini sudah rusak parah hingga tidak digunakan lagi. Jika masyarakat setempat sakit, mereka jarang mau berobat ke Puskesmas. Di samping jarak tempuh ke Puskesmas Naikere yang cukup jauh, kendaraan juga tidak ada. Hanya kendaraan dari perusahaan kayu yang ada di tengah belantara Distrik Naikere yang kadang sesekali melintasi pemukiman warga. Lalu ke manakah mereka berobat saat sakit? Mereka hanya mengandalkan “hukum alam”, jika sakit berarti alam sedang marah kepada mereka. Karena kondisi dan alasan inilah, Dinas Kesehatan Kabupaten Teluk Wondama mengusulkan ke Dinas Kesehatan Provinsi Papua Barat agar kedua kampung ini menjadi sasaran pelayanan kesehatan Tim PKB.

Tim PKB Provinsi Papua Barat dan Kabupaten Teluk Wondama siap melayani Kampung Sararti dan Kampung Wombu, Distrik Naikere

Tim kami kali ini terdiri dari sembilan orang, kami berlima dari Dinas Kesehatan Provinsi Papua Barat yakni dr. Adhe Ismawan, Lidya F. Roring, Amd.Kep, Halijah,S.Si.,Apt, La Majid, dan saya sendiri Winarti, AMK. Sedangkan dari Dinas Kesehatan Kabupaten Teluk Wondama adalah Rita Silambi, SKM yang akrab kami sapa Kak Rita, dan Om Barba (kolega Kak Rita) serta dari Puskesmas Naikere adalah Susan, AMK. Selain itu, Pak Hanok Waprak, Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Kabupaten Teluk Wondama juga ikut mendampingi kami.

Siang itu, kami menggunakan dua kendaraan roda empat double gardan, yang satunya milik perusahaan kayu yang kami carter dengan driver-nya Paijo (karyawan perusahaan kayu), sedangkan kendaraan satunya dengan tipe yang sama adalah kendaraan dinas milik Dinas Kesehatan Kabupaten Teluk Wondama dengan driver-nya Pak Waprak sendiri. Kami bergerak ke Sararti sekitar jam 13.00 WIT.

Kurang lebih lima jam kami menempuh perjalanan hingga tiba di Sararti. Dan begitu kami memasuki halaman gereja, kami disambut hujan deras, hingga sebagian obat-obatan basah, begitupun dengan barang-barang pribadi kami. Hari sudah petang. Kami memutuskan untuk beristirahat karena keesokan harinya kami akan mulai pelayanan.

Tanggal 24 Juli 2018, kami mulai pelayanan sekitar jam 10.00 WIT. Kami menempati halaman gereja, untuk menerima masyarakat setempat yang akan memeriksakan kesehatan mereka. Tak lama kemudian, kursi-kursi yang telah disiapkan sudah dipadati oleh masyarakat yang hendak berobat. Kebanyakan dari mereka adalah ibu-ibu dengan anaknya. Lalu ke manakah sang bapak?

Menurut Kak Rita, mata pencaharian sebagian besar penduduk Kampung Sararti adalah berburu. Ada waktu-waktu tertentu di mana mereka ke hutan untuk berburu dan ada pula waktu-waktu tertentu untuk mereka berisitirahat. Saat kedatangan kami, itu adalah waktu berburu. Jadi kebanyakan laki-laki atau bapak-bapak sedang berada di hutan.

Dari antara semua yang datang berobat, yang paling menarik  adalah seorang bapak yang tak lain adalah pengurus gereja. Dia mengalami sumbatan di telinga, penyebabnya adalah serumen obturans dan sudah dialami selama kurang lebih setahun. Baginya “dunia ini serasa sunyi”.

Setelah diperiksa oleh Dodis panggilan dr. Adhe Ismawan, langsung diberi tetes pelunak. Sekitar lima menit kemudian, Dodis sendiri yang langsung mengeksekusi telinganya dengan menggunakan serumen spoon. Tak lama kemudian, keluarlah sang “berlian” yang besarnya seruas jari kelingking yang menghuni liang telinganya selama kurang lebih setahun terakhir ini.

“Bagaimana rasanya, pak?” tanya Dodis. “Ternyata dunia ini penuh dengan kebisingan yah dok, he he he …,” jawabnya sambil bercanda. “Iya pak. Itu besarnya hampir seperti satu ruas jariku ini,” jawab Dodis sambil menunjukkan kelingkingnya. “Dan jika sedikit rasa pusing, itu wajar, karena ruang yang tadinya tersumbat, tiba-tiba dipenuhi udara. Tapi itu tidak akan lama, nanti akan hilang dengan sendirinya. Selamat menikmati suara-suara alam, he he he …,” jawab Dodis dengan perasaan senang.

Berbagai aktivitas selama Pelayanan Kesehatan Bergerak di Kabupaten Teluk Wondama

Pelayanan selesai menjelang petang. Kami lalu berkemas untuk segera balik ke camp perusahaan tempat kami menginap. Hari sudah gelap ketika mobil kami bergerak meninggalkan halaman gereja. Sekitar sepuluh menit kendaraan kami melaju melewati belantara Sararti. Sejenak saya menoleh ke kaca spion, berharap ada cahaya dari mobil yang dikendarai oleh Dodis dan teman-teman yang lain. Namun, sayangnya yang ada hanya kegelapan. Mobil melaju dengan pelan, entah karena jalan yang memang bukan aspal atau Paijo sengaja melaju dengan pelan? Sayapun menoleh dan bertanya pada Paijo, “Mas, kenapa mobil belakang kok tidak ada tanda-tanda? Kan kita jalannya pelan.” “Yah, gak tau, bu,” jawab Paijo singkat. Sekilas muncul negative thinking sama dia. Ke mana sebenarnya Paijo membawa kami? Kenapa terpisah jauh dari mobil belakang, sedangkan kami meninggalkan halaman gereja bersamaan. Jangan-jangan si Paijo punya niat buruk kepada kami, karena semuanya perempuan yang ada dalam mobil, kecuali Om Barba yang duduk di bagian bak belakang.

Kepala serasa penuh dengan tanda tanya sambil berfikir ke mana mobil satunya. Bagaimana caranya kami berkomunikasi, sedangkan jaringan sama sekali tidak ada, baik data maupun seluler. Serasa sedang berada di negeri antah-berantah, ponsel secanggih dan semahal bagaimanapun rasanya tidak ada manfaatnya di sini. Di tengah kebimbangan, saya mengarahkan pandangan keluar lewat jendela mobil, memandang jauh di tengah belantara Sararti. Yang nampak hanya belantara yang redup hanya diterangi cahaya purnama yang menyusup masuk lewat celah dedaunan yang sangat rimbun. Di sepanjang jalan yang kami lewati nampak tumpukan kayu gelondongan yang menurut Paijo itu adalah kayu jenis Merbau yang akan di kirim ke Jawa oleh perusahaan.

Sekitar sepuluh menit kemudian, nampak di depan seperti perkampungan. Terlihat dari beberapa cahaya lampu dari beberapa rumah. Yah, itu adalah camp perusahaan tempat kami akan menginap. Paijo berbelok dan akan memasuki kompleks tempat tinggal para karyawan. Namun, saya menyuruhnya berhenti, “Mas kita singgah dulu di sini. Kita tunggu mobil di belakang.” Karena di pikiran saya kami sudah terpisah sangat jauh, sepanjang perjalanan tidak ada tanda-tanda mereka ada di belakang mobil kami. Sekitar lima menit berhenti, Paijo menawarkan untuk segera menuju rumah tempat kami akan menginap, sambil menunggu yang lainnya di sana. Setelah berdiskusi dengan teman-teman yang lain, saya mengiyakan Paijo.

Setiba di rumah yang dimaksud Paijo, kami langsung turun dari mobil, dan berharap sudah ada tanda-tanda dari mobil yang satunya. Namun, ternyata tidak ada sama sekali. Saya memutuskan untuk tetap menunggu mereka di pekarangan rumah, sekitar sepuluh menit. Akhirnya, saya melihat ada mobil yang hendak masuk ke kompleks. Dan ternyata betul, itu mobil dari tim kami. Dan tak lama kemudian mobil itupun sampai di halaman rumah. Saya melihat Majid langsung melompat turun, karena dia duduk di bak belakang. Saya menghampiri dan langsung bertanya, “Kalian dari mana?” Sambil mengatur nafas yang nampak ngos-ngosan dia menjawab kalau mereka tersesat. ”Mobilmu laju sekali. Sampai-sampai tong tra bisa kejar,” ujar Majid. “Akh, tra da kok. Paijo bawa mobil pelan, bahkan sa sendiri jenuh di jalan saking pelannya,” jawab saya. Kami segera mengangkat barang-barang untuk masuk ke dalam rumah, agar kami bisa segera istirahat, rasanya sudah sangat lelah.

Yah, itulah tantangan kami dalam melakukan PKB. Selain medan yang sudah dipastikan akan sangat terpencil dan kondisi jalan serta cuaca yang kadang tidak bersahabat, namun itu semua tidak sebanding ketika kami bisa tersenyum puas menyaksikan seseorang yang tidak lagi merasakan sepinya dunia. Apapun rintangannya, kami akan tetap lewati demi mengemban tugas yang mulia ini.

Setelah melakukan pelayanan di Kampung Wombu keesokan harinya, kami langsung kembali ke Rasiei, untuk selanjutnya kembali ke Manokwari pada hari berikutnya.

 

2 comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *