Di Balik Kualitas Fondasi Kehidupan Anak Papua


Catatan Purnama Pertama ini dikirimkan oleh Brema J.K. Damanik, SKM, seorang Ahli Kesehatan Masyarakat lulusan Universitas Sriwijaya Palembang. Sejak 7 Juli 2018, Brema menjalani masa tugas sebagai tenaga kesehatan penugasan khusus individu Kementerian Kesehatan di Puskesmas Warmare Kabupaten Manokwari. Sarjana Kesehatan Masyarakat kelahiran Medan ini pernah bergabung pula dalam Pencerah Nusantara angkatan V. Tulisan kali ini dikirim dalam rangka Pekan ASI Sedunia 2018. Tulisan yang tidak hanya mengangkat permasalahan faktual di Papua, tetapi juga mengusulkan solusi ini, patut disimak dengan seksama dan direspons secara memadai oleh pihak-pihak terkait. Selamat menikmati.

-DoVic 070818-


Papua merupakan salah satu pulau terbesar di Indonesia yang terkenal dengan keindahan alam dan budayanya. Pulau Papua adalah pulau yang menyimpan begitu banyak cerita yang membuat orang-orang selalu bertanya-tanya. Masyarakat Papua merupakan orang-orang yang sangat ramah dan menyenangkan. Dari sekian banyak tempat yang saya datangi di Indonesia, hanya di Papua saya menemukan masyarakat yang sangat ramah. Tak pernah saya bayangkan setiap saya berjalan selalu mendapatkan sapaan selamat pagi, selamat siang dan selamat malam yang diikuti dengan senyuman lebar khas masyarakat Papua. Namun, dibalik indahnya senyuman tersebut mereka menyimpan sebuah kesedihan yang harus kita selesaikan bersama.

Tahun ini sebuah kesedihan dari Tanah Papua menjadi sorotan. Kasus gizi buruk yang menjadi KLB (Kejadian Luar Biasa) yang menjadi perhatian banyak orang. Banyak orang bertanya-tanya dan memberikan argumen tentang kejadian ini. Tapi menurut pendapat saya secara pribadi kejadian ini seperti fenomena gunung es. Dari kasus gizi buruk Asmat, kita perlu mencari apa penyebab kejadian tersebut. Dan tak lupa kita perlu mewaspadai wilayah kerja kita sendiri. Dari sekian banyak bayi yang lahir, mereka semua memiliki risiko untuk mengalami gizi buruk. Akan tetapi, mereka memiliki hak yang sama untuk mendapatkan status gizi yang sehat.

Bayi yang dilahirkan di Puskesmas Warmare dengan bantuan tenaga kesehatan (bidan)

Puskesmas Warmare merupakan salah satu Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP) yang berada di Distrik Warmare, Kabupaten Manokwari, Papua Barat. Memiliki wilayah kerja 31 kampung merupakan sebuah tantangan untuk tenaga kesehatan di Puskesmas Warmare untuk memperjuangkan status kesehatan masyarakat di wilayah kerja. Selama saya berada di Puskesmas Warmare saya memperhatikan kasus-kasus yang berkaitan dengan Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) dan gizi masyarakat. Banyak hal yang membuat saya selalu bertanya: Ada apa dengan Papua? Kenapa hal ini bisa terjadi?

Satu purnama telah saya lalui, hanya sebuah hipotesa sederhana yang saya dapatkan dan harus saya uji kebenarannya. Dari tujuh persalinan yang dilakukan di Puskesmas dalam kurun waktu satu bulan ada hal yang menarik perhatian saya yaitu ibu berisiko karena terlalu muda, terlalu dekat, dan terlalu banyak. Dari bidang gizi masyarakat yang menarik perhatian saya adalah jumlah kasus gizi buruk yang dari tahun 2016-2010 yang mengalami peningkatan dari 6 orang menjadi 10 orang berdasarkan laporan gizi di Puskemas Warmare. Apa yang salah? Kenapa bisa terjadi? merupakan pertanyaan yang biasa terlintas di dalam pikiran saya. Namun, jika saya hanya berhenti pada pertanyaan itu, maka tidak ada perubahan yang bisa dilakukan. Maka pertanyaan tersebut harus diganti dengan Apa yang harus saya lakukan?  Inovasi apa yang harus saya lakukan?

Bertepatan dengan peringataan World Breastfeeding Week atau yang dikenal dengan Pekan ASI Sedunia yang selama ini merupakan momentum yang dilakukan oleh WHO dan UNICEF untuk memberikan dukungan kepada ibu di seluruh dunia untuk memberikan ASI Eksklusif kepada bayinya. Sebuah slogan Foundation for Life yang diangkat untuk Pekan ASI tahun ini memberikan sedikit perhatian saya tentang kondisi di Papua Barat, khususnya wilayah kerja Puskesmas Warmare.

Di Balik Fondasi Kehidupan Anak Papua!

Berdasarkan data Riskesdas tahun 2013 persentase ibu memberikan kolostrum kepada bayi di Kabupaten Manokwari sebesar 90,1% dan ibu yang melakukan IMD (Inisiasi Menyusu Dini) sebesar 56,3 %. Dengan kata lain potensi pemberian ASI Eksklusif di Kabupaten Manokwari dapat dikatakan cukup banyak, akan tetapi mengapa hanya sedikit yang memberikan ASI Eksklusif? merujuk pada data cakupan gizi di Puskesmas Warmare pada rentang bulan Januari-Juni 2018 hanya 16,14% dari 223 sasaran bayi mendapatkan ASI Eksklusif. Ada apa dengan Papua?

Jika kita kembali mengingat tentang 1000 HPK (Hari Pertama Kehidupan) yang dimulai sejak terbentuknya janin dalam kandungan hingga anak berusia 2 tahun, maka kita akan menemukan sedikit permasalahan yang ada. Secara garis besar permasalahan tersebut berada pada ibu dan anak. Jika melihat kondisi yang ada melalui pengamatan sederhana yang saya lakukan di wilayah kerja Puskesmas Warmare saya mengambil sebuah hipotesa bahwa permasalahan tersebut berada pada sumber pondasi kehidupan tersebut yaitu IBU.

Mari mengkaji kualitas dari fondasi kehidupan yang ada di Papua? (terlalu muda, terlalu dekat dan terlalu banyak).

Pernahkah kita peduli terhadap usia pernikahan yang ada di Papua? Pernahkah kita peduli sudah berapa kali seorang ibu melahirkan? Dan pernahkah kita peduli berapa banyak anak dalam satu keluarga Papua?

Mungkin pernah dan bahkan sangat peduli, namun saya mau mengajak kita mengkaji lebih dalam melalui temuan yang saya dapatkan dalam satu purnama di bumi cenderawasih ini.

Dari tujuh persalinan yang dilakukan di Puskesmas Warmare, saya menemukan beberapa fakta yang membuat saya terkejut. Pertama usia pernikahan, banyak sekali dari generasi penerus bangsa ini yang berasal dari suku Papua menikah pada usia dini. Bahkan hal yang mengejutkan bagi saya adalah seorang anak kecil yang belum haid (menstruasi) sudah dinikahkan. Berdasarkan pernyataan dari salah satu keluarga pasien bahwa tidak ada masalah jika seorang anak dinikahkan pada usia muda. Terkait masa depan terutama pendidikan bukan hal penting jika dibandingkan dengan menikahkan anak. Hal ini yang menyebabkan tak jarang saya menemukan anak-anak yang tidak mau sekolah. Jika kita lihat dari sisi kesehatan dan kesiapan seorang anak perempuan menjadi fondasi kehidupan (calon ibu) mereka belumlah siap, ditambah lagi mereka belum mengalami masa menstruasi.

Kedua, jumlah anak yang dilahirkan. Jika melihat data jumlah anak yang dilahirkan (dari seorang ibu) terdapat 4 bayi, akan tetapi jumlah anak yang masih hidup hanya 2 anak, lalu kenapa dengan 2 anak lagi?

Ibarat membangun sebuah bangunan yang baik maka kita harus memastikan kualitas fondasi bangunan tersebut. Hal ini sama seperti ketika membangun sebuah keluarga maka kita harus memastikan kualitas dari fondasi tersebut. Salah satu fondasi tersebut adalah IBU. Mengapa seorang ibu harus memiliki sebuah pengetahuan yang baik? Kenapa kebanyakan seorang anak akan menangis memanggil ibunya? Hal itu karena seorang ibu adalah manusia pertama yang dikenal oleh seorang bayi. Ketika bayi sakit, orang pertama yang akan menolongnya adalah ibu. Ketika bayi lapar, orang pertama yang akan memberinya susu adalah ibu. Namun, kenapa banyak kematian bayi ataupun anak?

Jika kita mencari tahu akar permasalahan dari hal ini, kita akan menemukan sebuah akar masalah yaitu pengetahuan ibu. Ada apa dengan pengetahuan ibu di Papua?

Bayangkan begitu banyak ibu yang tidak menyelesaikan sekolah karena alasan menikah usia muda, lalu bagaimana dengan pengetahuannya? Sebagai seorang anak yang baru menikah dan putus sekolah, maka seorang ibu muda akan belajar dari ibu kandungnya ataupun ibu mertuanya. Sebuah logika sederhana seorang murid akan sama seperti gurunya karena ilmu yang didapatkan oleh murid adalah ilmu yang dimiliki gurunya. Secara mudahnya ibu muda akan mempercayai apa saja yang disampaikan oleh ibunya. Saya melihat fenomena ini sebagai lingkaran hitam yang seharusnya kita putuskan. Kenapa? Ada sebuah cerita di masyarakat Papua khususnya di wilayah kerja Puskesmas Warmare terkait Suanggi (hal mistis yang merupakan ketakutan terbesar dari masyarakat Papua). Apabila ada anak yang sakit dan mati, hal tersebut disebabkan oleh Suanggi. Apabila ada keluarga yang sakit biasanya masyarakat akan membawa keluarga tersebut ke atas gunung untuk mendapatkan pengobatan yang belum saya kaji lebih jauh.  Namun, ada sebuah cerita yang membuat saya sedih adalah apabila seorang bayi sakit dan ibu keluar dari rumah maka ibu tidak boleh memberikan ASI kepada anaknya karena ASI dari ibu tersebut sudah “dirusak/dijampi/dipengaruhi” oleh suanggi. Dan apabila ibu memberikan ASI, maka bayi akan mati. Oleh sebab itu bayi harus diberikan makanan lain ataupun susu formula.

Kenapa hal ini bisa sampai terjadi? Apakah suanggi itu ada? Ada apa dengan suanggi dan masyarakat Papua?  Hal ini masih dalam pengkajian etnografi yang mungkin akan saya kaji selama di penugasan ini. Akan tetapi, pendapat saya untuk saat ini, hal ini dapat terjadi karena pengetahuan ibu muda yang masih dipengaruhi oleh ibunya. Dengan kata lain, pengaruh keluarga dan budaya akan mempengaruhi pengetahuan ibu muda dan masih menjadi tantangan terhadap pemberian ASI Eksklusif pada masyarakat Papua. Lalu apakah peluang pemberian ASI Eksklusif semakin rendah apabila melihat fenomena bayi sakit akibat suanggi dan ibu tidak boleh memberikan ASI? Tentu tidak, karena masih ada beberapa ibu yang masih percaya akan kuasa Tuhan dan masih percaya akan pertolongan yang diberikan oleh tenaga kesehatan. Hal ini merupakan sebuah kekuatan yang dapat kita gunakan untuk mengatasi permasalahan yang ada.

Lalu apa solusi dan inovasi yang bisa kita berikan?

Seorang ibu Papua membawa anaknya berusia 4 bulan berobat ke Puskesmas Warmare

Saya seorang tenaga kesehatan masyarakat, mungkin kebanyakan orang pasti menduga saya akan menawarkan tentang penyuluhan-penyuluhan kesehatan. Akan tetapi sebagai tenaga kesehatan profesional Ahli Kesehatan Masyarakat saya tidak akan menawarkan hal itu. Karena penyuluhan telah sering dilakukan akan tetapi perubahan yang terjadi masih sangat sedikit. Lalu yang saya tawarkan adalah Mother Support Group (MSG) dengan pendekatan budaya.

Apa itu Mother Support Group (MSG)?

Mungkin ada di antara kita mengenal dengan kelas ibu hamil dan kelas bayi balita. Mother Support Group (MSG) sendiri merupakan sebuah pengembangan dan perpaduan dari kelas ibu hamil dan kelas bayi balita. Mother Support Group (MSG) merupakan salah satu kegiatan inovasi yang saya ketahui pada saat menjadi Pencerah Nusantara di Kalimantan Tengah. Lalu apa saja yang dilakukan?

Jika di Kalimantan MSG yang pernah dilakukan tim Pencerah Nusantara berfokus kepada penurunan bayi dan balita gizi buruk dengan memberikan edukasi kepada ibu, maka untuk kondisi di Papua perlu dilakukan sebuah modifikasi melalui pendekatan budaya. Bila sasaran MSG semasa Pencerah Nusantara adalah ibu yang memiliki anak, maka sasaran MSG yang  dilakukan di Papua dimulai dari ibu hamil. Lalu apa bedanya dengan kelas ibu hamil yang biasa dilakukan?

Tidak ada perbedaan yang cukup besar akan tetap ada sebuah inovasi yang dilakukan pada kegiatan ini. Apa saja ?

  1. Kolaborasi interprofesi dari tenaga kesehatan (bidan, gizi dan promosi kesehatan).
  2. Pemberdayaan Kader Posyandu.
  3. Konseling dan pendekatan interpersonal dengan ibu hamil.
  4. Pemantauan kesehatan ibu sejak dini.
  5. Pendekatan dengan keluarga ibu.
  6. Motivasi ibu yang berhasil memberikan ASI Eksklusif dan memiliki status gizi anak normal ataupun sehat.
  7. Memberikan pendekatan berdasarkan studi etnografi yang dilakukan tenaga kesehatan lokal.

Namun, inovasi kegiatan ini dapat dilakukan apabila telah dilakukan advokasi di Puskesmas, tingkat kampung dan tingkat distrik. Karena keberhasilan sebuah kegiatan, jika ada dukungan dari lintas program dan lintas sektor.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *