Dengan PPI, Sayonara HAIs

Dalam usaha untuk meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan di Rumah Sakit yang ada di wilayah Provinsi Papua Barat, Bidang Pelayanan Kesehatan pada Dinas Kesehatan Provinsi Papua Barat terus berupaya meningkatkan kapabilitas tenaga, baik yang ada di Rumah Sakit maupun di Dinas Kesehatan dari tahun ke tahun. Beberapa tahun yang lalu, Dinas Kesehatan Provinsi Papua Barat menyelenggarakan Workshop Patient Safety dengan mendatangkan narasumber dari Komite Keselamatan Pasien Rumah Sakit. Saat ini, sudah ada regulasi yang mengatur tentang Keselamatan Pasien yaitu Peraturan Menteri Kesehatan nomor 27 tahun 2017. Pada tahun 2018, selain mengadakan Workshop tentang Standar Nasional Akreditasi Rumah Sakit (SNARS), Dinas Kesehatan Provinsi Papua Barat juga menyelenggarakan Workshop Program Pengendalian Resistensi Antimikroba (PPRA). Hadir pada Workshop tersebut dr. Harry Paraton, Sp.OG(K) selaku Ketua Komite Pengendalian Resistensi Antimikroba (KPRA) bersama tim. Peraturan Menteri Kesehatan nomor 8 tahun 2015 menjadi dasar pelaksanaan PPRA di Rumah Sakit.

Foto bersama Sekretaris Dinas Kesehatan Provinsi Papua Barat yang membuka Workshop.

Pada tahun 2019 ini, Dinas Kesehatan Provinsi Papua Barat menyelenggarakan Workshop Pencegahan dan Pengendalian Infeksi (PPI) di Rumah Sakit. Workshop yang mengundang Tim atau Komite PPI serta Infection Prevention Control Nurse (IPCN) semua Rumah Sakit, termasuk swasta, yang ada di Provinsi Papua Barat diselenggarakan di Aston Niu Hotel Manokwari pada tanggal 15-17 Mei 2017. Workshop ini menghadirkan sejumlah narasumber dari Kementerian Kesehatan dan Kelompok Kerja Nasional (Pokjanas) PPI. Peraturan Menteri Kesehatan nomor 27 tahun 2017 menjadi pedoman PPI di fasilitas pelayanan kesehatan, bukan hanya di Rumah Sakit.

dr. Ida Bagus Anom, Kepala Seksi Rawat Jalan dan Gawat Darurat, Direktorat Pelayanan Kesehatan Rujukan, Kementerian Kesehatan menjelaskan, “Tujuan program PPI adalah untuk meningkatkan mutu layanan Rumah Sakit dan fasilitas pelayanan kesehatan lainnya sehingga bisa cost effective, untuk melindungi tenaga kesehatan dan masyarakat dari penularan penyakit menular dan untuk mencegah terjadinya Healthcare Associated Infections (HAIs).”

dr. Ida Bagus Anom menyampaikan paparannya.

HAIs yang disebut juga sebagai Infeksi Terkait Pelayanan Kesehatan (ITPK) dapat diputus mata rantainya dengan menjalankan Isolation Precaution. Sepuluh Kewaspadaan Standar sebagai salah satu Isolation Precaution harus dilaksanakan setiap melayani pasien tanpa memperhatikan jenis infeksinya. Salah satu dari Kewaspadaan Standar tersebut adalah alat perawatan pasien atau alat habis pakai. “Menurut teori Spaulding alat perawatan kesehatan dibagi menjadi tiga. Pertama, alat Non Critical yang hanya menyentuh kulit utuh, yang cukup bersih dan kering sebelum digunakan. Jangan lebay perlakuannya. Kedua, alat Semi Critical yang menyentuh mukosa utuh, yang harus bersih, kering dan dilakukan desinfeksi tingkat tinggi (DTT) sebelum digunakan. Ketiga, alat Critical yang masuk ke dalam pembuluh darah atau rongga atau jaringan steril, yang harus bersih, kering dan dilakukan sterilisasi sebelum digunakan,” kata dr. S.H. Manullang, SpB(K), FICS dari Pokjanas PPI.

dr. S.H. Manullang, SpB(K), FICS (tengah-depan) dengan para peserta dan panitia.

Manullang melanjutkan, “Jikalau pada pria ada sembilan lubang dan pada wanita ada sepuluh lubang sebagai pintu masuk infeksi, maka dapat disederhanakan supaya mudah diingat, bahwa sebagai pintu masuk dan sekaligus sebagai pintu keluar hanya ada dua, yaitu mukosa dan kulit cedera. Selalu mengingat akan hal yang sederhana ini, membuat setiap tenaga kesehatan berhati-hati dalam bekerja.” Dengan logat dan intonasinya yang khas, Manullang mengingatkan, “Jangan bermimpi ada daerah steril, jangan membiarkan mikroorganisme berkolonisasi dan jangan memindahkan!”

Costy Pandjaitan, CVRN, SKM, MARS, PhD (paling kanan) bersama para penerima sertifikat.

Untuk menjalankan PPI ini, penting sekali keberadaan IPCN sebagai motor penggerak. “IPCN atau yang dikenal juga dengan Perawat PPI adalah tenaga perawat praktisi/professional yan bekerja purna waktu khusus di bidang infeksi atau berhubungan dengan ITPK di Rumah Sakit atau fasilitas pelayanan kesehatan lainnya. Tanpa keberadaan IPCN, PPI tidak dapat berjalan, “ tegas Costy Pandjaitan, CVRN, SKM, MARS, PhD.

Salam Hand Hygiene!

Melanjutkan upaya-upaya peningkatan kualitas pelayanan kesehatan di Rumah Sakit, Dinas Kesehatan Provinsi Papua Barat melalui Bidang Kesehatan Masyarakat akan mengadakan Pelatihan Pengelolaan Limbah di Fasilitas Pelayanan Kesehatan bagi tenaga di Rumah Sakit, Dinas Kesehatan dan Dinas/Badan Lingkungan Hidup. Semoga semua upaya ini menjadikan Rumah Sakit di Provinsi Papua Barat memberikan pelayanan sesuai standar.


-DoVic 200519-

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *