Bertugas di Remote Area: Mengatasi Jurang

Pusat Kesehatan Masyarakat atau yang lebih dikenal dengan Puskesmas adalah salah satu dari sepuluh jenis fasilitas pelayanan kesehatan yang dikenal di Indonesia. Sebagaimana diatur dalam Peraturan Pemerintah nomor 47 tahun 2016 tentang Fasilitas Pelayanan Kesehatan, fasilitas pelayanan kesehatan lainnya adalah (1) tempat praktik mandiri tenaga kesehatan, (2) klinik, (3) rumah sakit, (4) apotek, (5) unit transfusi darah, (6) laboratorium kesehatan, (7) optikal, (8) fasilitas pelayanan kesehatan untuk kepentingan hukum, dan (9) fasilitas pelayanan kesehatan tradisional. Apa yang menjadikan Puskesmas unik? Puskesmas adalah satu-satunya fasilitas pelayanan kesehatan yang menyelenggarakan Upaya Kesehatan Masyarakat (UKM) dan yang memiliki wilayah kerja.

Berdasarkan karakteristik wilayah kerja tadi, Puskesmas dapat dikategorikan menjadi (1) Puskesmas kawasan perkotaan, (2) Puskesmas kawasan pedesaan, dan (3) Puskesmas kawasan terpencil dan sangat terpencil. Puskesmas kawasan terpencil dan sangat terpencil memiliki wilayah kerja yang berada di wilayah sulit dijangkau atau rawan bencana, pulau kecil, gugus pulau atau pesisir. Ciri lainnya adalah akses transportasi umum rutin 1 kali dalam 1 minggu, jarak tempuh pulang pergi dari ibukota kabupaten memerlukan waktu lebih dari  jam dan transportasi yang ada sewaktu-waktu dapat terhalang iklim atau cuaca; serta bisa terjadi kesulitan pemenuhan bahan pokok dan kondisi keamanan yang tidak stabil. Karakteristik ini dijelaskan dalam Peraturan Menteri Kesehatan nomor 75 tahun 2014 tentang Puskesmas pasal 24.

Contoh wilayah kerja Puskesmas kawasan sangat terpencil di Provinsi Papua Barat

Dengan ciri-ciri seperti disebutkan di atas, maka pelayanan kesehatan di kawasan terpencil dan sangat terpencil memiliki bentuk yang berbeda dari pelayanan kesehatan di kawasan perkotaan dan kawasan pedesaan. Sebagaimana disebutkan dalam Peraturan Menteri Kesehatan nomor 90 tahun 2015 tentang Penyelenggaraan Pelayanan Kesehatan di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Kawasan Terpencil dan Sangat Terpencil, pelayanan kesehatan di kawasan terpencil dan sangat terpencil dapat berbentuk (1) pelayanan kesehatan bergerak, (2) pelayanan kesehatan gugus pulau, (3) rumah tunggu kelahiran, dan (4) pelayanan kesehatan berbasis telemedicine (klik Modus ke Maudus, Telemedicine : Memperkuat Sistem Pelayanan Kesehatan DTPK di Papua Barat, Selangkah Lebih Dekat dalam Penerapan Telemedicine di Papua Barat).

Mobile clinic dalam program Percepatan Pembangunan Bidang Kesehatan di Tanah Papua (P2KTP) atau Save Papua adalah salah satu contoh pendekatan bentuk pelayanan di kawasan terpencil dan sangat terpencil

Bertugas di Puskesmas kawasan terpencil dan sangat terpencil, tentulah diperlukan pengetahuan, keterampilan, kesiapan fisik, ketahanan mental, kemampuan berpikir dan bertindak out of the box sesuai konteks lokal serta tambahan kewenangan bagi para tenaga kesehatannya. Apalagi tenaga kesehatan yang akan bertugas di Puskesmas kawasan terpencil dan sangat terpencil di Provinsi Papua Barat. Ada apa dengan Papua? Dalam bukunya “Saudaraku, Marilah Hidup Sehat, Sejahtera dan Maju Bersama”, dr. Bambang Sardjono, MPH, mantan Staf Ahli Menteri Kesehatan Bidang Peningkatan Kapasitas Kelembagaan dan Desentralisasi menuliskan dalam bagian prawacana: “Bila saya ditanya tentang Papua, maka dalam benak saya yang muncul dan terpikir adalah JURANG”.

 

Kesan, pengalaman, karya dan pesan dr. Bambang Sardjono, MPH tentang Papua yang dituangkan dalam buku … Papua adalah Jurang
Para tenaga kesehatan penugasan khusus individu angkatan II sedang memperhatikan pemaparan tentang Pelayanan Kesehatan di Remote Area di Ruang Allaudin BBPK Makassar (3 Juli 2018)

Sejumlah tujuh puluh lima tenaga kesehatan penugasan individu akan ditempatkan di 32 Puskesmas yang tersebar di Kabupaten Raja Ampat, Kabupaten Sorong Selatan, Kabupaten Fakfak dan Kabupaten Manokwari Provinsi Papua Barat. Sebelum diterjunkan bertugas selama dua tahun di Puskesmas-Puskesmas kawasan terpencil dan sangat terpencil tadi, mereka diberikan pembekalan mulai tanggal 29 Juni sampai dengan 7 Juli 2018 di Balai Besar Pelatihan Kesehatan (BBPK) Makassar. Ketujuh puluh lima tenaga kesehatan yang mengikuti pembekalan tersebut terdiri atas 1 orang perawat, 22 orang bidan, 11 orang tenaga gizi, 5 orang tenaga kesehatan lingkungan, 19 orang tenaga kesehatan masyarakat, 3 orang ahli teknologi laboratorium medik dan 14 orang tenaga farmasi.

Salah satu materi pembekalan adalah tentang Pelayanan Kesehatan di Remote Area yang disamp

Para tenaga kesehatan penugasan khusus individu angkatan III sedang menyimak paparan narasumber di Ruang Lagaligo BBPK Makassar (3 Juli 2018)

aikan oleh dr. Victor Eka Nugrahaputra, M.Kes. selaku Kepala Bidang Pelayanan Kesehatan Dinas Kesehatan Provinsi Papua Barat. Kepada peserta pelatihan, Victor memberikan dorongan, “Kalian akan ditugaskan ke wilayah-wilayah yang banyak jurangnya. Bukan jurang dalam pengertian geografis semata, tetapi jurang dalam makna lain yaitu adanya gap atau kesenjangan dalam berbagai aspek, termasuk dalam pelayanan kesehatan. Tugas kalian adalah mengatasi jurang-jurang itu, mempersempit gap, bahkan sebisa mungkin meniadakan kesenjangan. Tunaikan tugas dengan sepenuh hati. Karena, barangsiapa yang bekerja di Tanah ini dalam iman dan dengar-dengaran, akan berjalan dari tanda heran satu kepada tanda heran yang lain”. Kalimat terakhir ini diucapkan oleh Pendeta Ishak Samuel Kijne (1923-1958) yang melayani di Papua, yang juga dikutip oleh Bambang Sardjono dalam bukunya.

Bersama 37 tenaga kesehatan penugasan khusus individu angkatan II yang siap mengabdi dan menghadirkan Negara di Papua Barat
Bersama 38 tenaga kesehatan penugasan khusus individu angkatan III yang siap memperkuat Puskesmas di DTPK agar dapat memberikan pelayanan kesehatan berkualitas

Create By. DoVic

print

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *