Berjuang Bersama Untuk Masyarakat di Balik Awan Arfak

 

 

 

 

 

 

 

 

Ini adalah tulisan kedua Brema (klik Di Balik Kualitas Fondasi Kehidupan Anak Papua). Tulisan ini masih berkisah tentang seluk beluk kampanye imunisasi Measles Rubella (klik Perjuangan Di Balik Kampanye Imunisasi Measles Rubella). Tulisan yang berkisah tentang bagaimana integrasi antar profesi kesehatan untuk mencapai suatu tujuan bersama ini diharapkan dapat menginspirasi siapa saja dalam bekerja di Tanah ini. Bahwa kesuksesan sebuah program juga andil dari program dan profesi lainnya. Para Nusantara Sehat penugasan khusus individu yang ditempatkan di Puskesmas Warmare adalah para tenaga kesehatan yang paham tentang nilai-nilai akreditasi – client centered care – yang diejawantahkan dalam strategi penuh kearifan lokal. Dalam bekerja mereka tentu berkolaborasi dengan jajaran Puskesmas Warmare yang sudah terakreditasi madya tahun 2017. Tulisan ini dibuat sebelum Papua Barat mencapai target minimal 95% (klik “Congrats … Papua Barat!”). Selamat membaca!

-Dovic 011018-


“Hanya ada satu negara yang menjadi negaraku. Negara itu tumbuh karena perbuatan. Dan itu perbuatanku” – Bung Hatta –

Kala itu adalah pertama kali saya ikut memberikan pelayanan kesehatan bersama teman-teman Puskesmas Warmare di Kampung Duebey, Kampung Kwau, Kampung Syou dan Kampung Mokwam. Sebagai salah satu Puskesmas yang memiliki jumlah wilayah kerja terbanyak yaitu 31 kampung, Puskesmas Warmare memiliki kendala dalam memberikan akses pelayanan kesehatan khususnya pelayanan kesehatan di “kampung-kampung atas”. Hal ini tidak menyurutkan semangat kami dalam memberikan pelayanan. Terbukti sampai saat ini kami tetap memberikan pelayanan kesehatan secara rutin pada tanggal 18 setiap bulannya. Pelayanan ini didukung oleh PKK Kabupaten Manokwari yang memberikan dukungan berupa mobil yang dapat membawa kami ke “kampung-kampung atas” tersebut.

Berdasarkan informasi dari UNICEF Indonesia, negara kita termasuk dalam 10 besar negara dengan kasus campak. Pada tahun 2017 ditemukan 8.099 kasus suspek campak (measles) dan rubella, kemudian pada tahun 2018 ditemukan 1.045 kasus suspek campak dan rubella di mana terdapat kasus positif campak sebanyak 38 kasus dan kasus positif rubella sebanyak 176 kasus. Bahkan pada awal 2018 terjadi Kejadian Luar Biasa (KLB) campak di Asmat, Papua. Hal ini menyebabkan pentingnya dilakukan pengendalian terhadap penularan penyakit ini. Tak heran pemerintah menargetkan pemerataan imunisasi Measles Rubella dan mencapai target minimal 95%.

Pada tahun 2017 sudah dilakukan imunisasi Measles Rubella di Pulau Jawa. Hal ini membuahkan hasil yang cukup baik yaitu penurunan angka kasus campak dan rubella melebihi 95%. Lalu yang menjadi pertanyaan adalah kenapa di tahun 2018 banyak sekali isu-isu tentang imunisasi Measles Rubella yang menyebabkan sulitnya menyukseskan imunisasi Campak Rubella. Kenapa tidak terjadi di tahun 2017 (klik Press Release: Kampanye Imunisasi Measles-Rubella (MR) di Provinsi Papua Barat)?

Secara nasional permasalahan terbesar adalah halal atau tidak halalnya vaksin ini dan banyak sekali berita-berita hoax terkait Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI) yang tidak memiliki dasar. Setiap daerah memiliki permasalahan sendiri dalam menyukseskan pemberian imunisasi ini. Jika dilihat dari persentase cakupannya, Papua Barat menduduki peringkat 1 dengan perolehan persentase sebesar 91,83%. Persentase yang cukup baik akan tetapi masih harus mengejar target nasional sebesar 95%. Apakah dapat tercapai? Secara pribadi saya optimis Indonesia dapat mencapai target nasional sebesar 95%, baik itu Papua Barat (klik Akankah Papua Barat Terlindungi dari Ancaman Measles-Rubella?) maupun Aceh sendiri. Bagaimana caranya?

Sebagai seorang tenaga kesehatan kita tidak boleh menyerah. Kita harus melakukan berbagai upaya dalam menyukseskan program ini mengingat dampak yang akan ditimbulkan cukup besar dan dapat mempengaruhi kestabilan negara kita. Bukan hanya kesehatan tetapi sektor-sektor lainnya akan terpengaruhi, karena sasaran imunisasi ini adalah generasi penerus bangsa. Ada beberapa saran yang ingin saya bagikan untuk pejuang-pejuang imunisasi Measles Rubella yang mungkin dapat membantu tenaga kesehatan lainnya dalam menyukseskan imunisasi Measles Rubella ini.

  1. Pastikan kita mengenali budaya, adat istiadat, kepercayaan dan kebiasaan dari masyarakat kita.
  2. Pastikan kita yang memberikan imunisasi sesuai dengan kemampuan dan keahliannya.
  3. Pastikan kita dapat melakukan kolaborasi interprofesi di mana tanggungjawab imunisasi Measles Rubella bukan menjadi tanggung jawab tim imunisasi Measles Rubella saja, tapi menjadi tanggung jawab bersama.
  4. Pastikan kita dapat melakukan advokasi dan bekerja sama di tingkat pemerintahan dan tokoh-tokoh kunci seperti tokoh adat, tokoh masyarakat dan tokoh agama.
  5. Pastikan kita memberitahu masyarakat akan pentingnya imunisasi Measles Rubella serta bahaya campak dan rubella dengan melakukan pendekatan masyarakat, penayangan ataupun penyampaian kisah-kisah pasien campak dan rubella. Jangan lupa untuk melihat respon dari masyarakat.
  6. Dekati mereka yang menjadi provokator yang tidak setuju akan imunisasi Measles Rubella. Jangan jauhi mereka, tapi ajak untuk berpikir bersama dan lakukan mediasi dengan mereka.
  7. Sasaran imunisasi Measles Rubella adalah anak di atas 9 bulan sampai dengan 15 tahun. Jadi buatlah beberapa inovasi dalam memberikan imunisasi Measles Rubella, sehingga sasaran tidak merasa takut diimunisasi. Pastikan sasaran kita senyaman mungkin ketika mendapatkan imunisasi Measles Rubella.

Berikut adalah kisah kami menjalankan imunisasi Measles Rubella di Kampung Mokwam  Distrik Warmare.

Perkenalkan saya Brema, saya merupakan seorang tenaga ahli kesehatan masyarakat yang bertugas di Puskesmas Warmare. Saya baru beberapa bulan berada di Papua Barat dan baru mengenal sedikit kearifan lokal di sini. Saya tidak termasuk dalam tim inti imunisasi Measles Rubella di Puskesmas Warmare, tetapi saya merasa sebagai salah satu bagian dari keluarga besar Puskesmas Warmare. Hal ini yang membuat saya terpicu untuk memberikan dukungan dalam program ini. Sebagai tenaga ahli kesehatan masyarakat saya tidak memiliki kompetensi dalam memberikan vaksin, tetapi sebagai tenaga ahli kesehatan masyarakat saya memiliki kemampuan dalam melakukan pendekatan kepada berbagai lapisan masyarakat.

Lalu apa yang terjadi saat itu… ?

1. Inovasi sweeping bekerja sama dengan anak-anak

Mengajak anak-anak memanggil teman-temannya untuk diimunisasi Measles Rubella

Sedikit lucu, tapi cukup melelahkan. Salah satu tantangan yang tim imunisasi Measles Rubella hadapi adalah ketika anak-anak tahu bahwa akan ada  tenaga kesehatan yang menyuntik mereka, maka anak-anak tersebut lari ke dalam hutan dan bersembunyi sampai tenaga kesehatan pergi. Hal ini kami alami. Pada waktu itu kami menemukan seorang anak yang menjadi provokator untuk mengajak teman-temannya kabur ke hutan. Awalnya saya dan teman-teman bidan Nusantara Sehat sedikit bingung dan kewalahan, namun kami harus bergerak cepat agar tidak ada anak yang kabur ke hutan. Hanya hari itu, kami dapat turun ke kampung tersebut. Salah satu bidan Nusantara Sehat di Puskesmas Warmare, Alfi Umayah, pernah menjadi seorang guru Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD). Saat itu, seolah kami saling mengerti. Dengan hanya saling berpandangan, seketika seorang bidan berubah menjadi layaknya seorang guru PAUD yang memanggil seorang anak untuk mendekati kami. Akhirnya kami mendapatkan beberapa anak yang mau mendekati kami. Bidan Marisca Anastasia yang merupakan bidan Nusantara Sehat lahir dan besar di Sorong mengeluarkan gaya bahasa Papua untuk mempengaruhi anak-anak tersebut. Namun, beberapa dari mereka masih enggan untuk pergi ke lokasi imunisasi. Sekilas teringat saat itu kami membawa vitamin, maka muncullah sebuah ide untuk mengatakan vitamin adalah gula-gula. Jadi saya dan kedua teman saya berkata kepada anak-anak yang mau gula-gula bisa ambil ke atas, tapi harus diimunisasi dulu, setelah itu kita akan main dan bersenang-senang di sana. Seketika itu juga anak-anak tersebut berteriak dalam bahasa Papua dan Indonesia untuk ikut kami karena setelah diimunisasi akan main-main. Akhirnya beberapa anak yang bersembunyi keluar dan mengikuti kami, bahkan beberapa di antaranya menarik temannya yang masih ragu untuk ikut. Bahkan ada yang datang ke rumah temannya untuk mengajak ikut. Kami pun pergi ke atas, ke lokasi imunisasi Measles Rubella. Sedikit melelahkan, karena kami harus mendaki, tapi kami tetap beri semangat mereka dengan menyanyi ataupun teriakan-teriakan untuk bermain di atas. Tantangan pertama berhasil diatasi, tapi tantangan berikutnya masih ada.

2. Menguatkan mereka yang takut suntik

Mendampingi seorang anak yang awalnya takut disuntik imunisasi Measles Rubella

“Tra mau disuntik, saya tramau dekat suster sama mantri” sontak seorang anak menghampiriku dan berkata hal tersebut padahal saya juga adalah mantri (sebutan tenaga kesehatan laki-laki selain dokter) dari Puskesmas Warmare.  Akhirnya saya melakukan pendekatan kepada anak ini. Layaknya seorang kakak asuh, saya langsung berkata “ayo tra papa, mari su deng kaka. Nanti kaka temani kamu, gak sakit kok”. Beberapa kali saya mengatakan hal tersebut, akhirnya anak ini mau. Tapi rasa takutnya tidak hilang begitu saja. Tangannya tetap memegang erat kaki saya. Untung saja perawat Tika sangat telaten menyuntik dia, sehingga anak tersebut tidak menangis. Awalnya dia takut melihat jarum suntik, tapi dengan cepat saya berkata  “jangan liat, kamu liat kakak saja”. Akhirnya anak tersebut berhasil disuntik. Kemudian saya membawanya bersama dengan teman-temannya yang sudah disuntik.

3. Eliminasi tangisan yang mempengaruhi anak-anak lain

Bermain bersama anak-anak yang sudah diimunisasi Measles Rubella

Siapa bilang setelah berhasil disuntik, kegiatan telah berakhir. Pasca suntik adalah penentu apakah kami akan mendapatkan banyak anak untuk mau diimunisasi. Sama seperti pada saat posyandu ketika satu anak menangis, anak-anak lainnya akan menangis dan tidak mau mengalami hal yang dialami anak yang menangis tersebut. Oleh sebab itu sesuai dengan perjanjian awal kami, kamipun mengumpulkan anak-anak tersebut dan mengajak mereka bermain. Bukan hanya bermain biasa-biasa, kami juga menyampaikan pesan-pesan kesehatan dalam permainan itu seperti perilaku hidup bersih dan sehat, kesehatan gigi dan mulut. Awalnya hanya sedikit yang datang tapi akibat suara tawa dan bahagia mereka yang cukup lantang membuat banyak yang datang. Awalnya hanya ingin melihat, tapi akhirnya ikut terlibat. Bahkan ada beberapa orang tua yang datang ikut mendampingi anaknya bermain. Pada saat itu, saya merasa melakukan sedikit diskriminasi, tapi saya tak bermaksud mendiskriminasi mereka. Saya hanya berkata “yang belum imunisasi belum boleh ikut bermain, hayo tunjukkan tangannya yang diimunisasi”. Akhirnya mereka yang belum diimunisasi mengantri untuk mendapatkan imunisasi, agar ikut bermain.

Hari pun semakin sore dan risiko kabut yang akan menutupi akses jalan yang belum baik dan risiko terjatuh ke jurang pun semakin tinggi. Kami pun memutuskan untuk kembali turun dari “kampung atas” mengingat kendaraan yang kami tumpangi hanya bisa untuk satu hari saja. Kami pun pamit, saya memberikan toss (give five) kepada anak-anak tersebut. Beberapa dari anak-anak tersebut bertanya “kapan paman akan datang lagi” (saat saya memberikan penyuluhan saya baru mengatakan diri saya adalah mantri). Saya hanya tersenyum dan berkata “mungkin bulan depan, tapi paman tidak bisa janji. Nanti kamu rajin belajar dan jaga kesehatan supaya nanti bisa ketemu paman di bawah”. Dan anak tersebut pun menjawab “siap paman, nanti saya akan jadi mantri seperti paman”. Kemudian yang anak perempuan tak mau kalah dan berkata “saya akan jadi suster”, sambil menunjuk bidan Nusantara Sehat. Saat itu, perpisahaan pun harus dilakukan, walaupun belum mau berpisah. Acem Monti, Tuhan Nyo.. adalah kata terakhir saya kepada mereka dan mereka membalas Acem.. Acem.. da.. Paman.. Tuhan Nyo.. sambil memberikan senyuman manis masyarakat Papua.

Kepulangan menuju Puskesmas Warmare dengan kondisi jalan mulai berkabut

Setelah pamit, kami pun pulang menuju Puskesmas Warmare. Dan benarlah seperti dugaan kami, kami mendapatkan kabut awan di perjalanan turun. Sangat berisiko untuk turun mengingat jalan yang tidak baik dan penuh dengan kabut dan debu. Tapi untungnya kemudian rintik hujan membasahi tanah, sehingga debu sedikit berkurang. Kami yang berada di belakang mobil mendapatkan beberapa tetesan air hujan. Walaupun menghadapi hal tersebut kami tetap membawa dalam kebahagian. Doa masyarakat membawa kami kembali dengan selamat “Tuhan Nyo” yang berarti Tuhan Berkati. Sesampai di Puskesmas tim imunisasi Measles Rubella sangat bahagia, karena imunisasi kali ini memenuhi target awal untuk “kampung-kampung atas”. Walaupun saya tidak termasuk dalam tim inti imunisasi Measles Rubella, tapi saya sangat senang karena suksesnya imunisasi Measles Rubella adalah kesuksesan Puskesmas Warmare dan saya merupakan bagian dari keluarga besar Puskesmas Warmare. Berdasarkan hasil capaian imunisasi Measles Rubella, Puskesmas Warmare telah berhasil mencapai 96,29% dari 2.114 sasaran. Walaupun sudah memenuhi target minimal, Puskesmas Warmare siap terus memberikan imunisasi bagi anak yang belum mendapatkan imunisasi Measles Rubella sampai 31 Oktober 2018 dengan catatan vaksin masih mencukupi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *