Batang Yang Mematikan

Papua Barat dikejutkan dengan berita seorang anak lima tahun meninggal dunia di RSUD Manokwari diduga karena difteri pada 24 September 2018. Semampu otak mengingat, tampaknya saya tidak pernah mendengar ada kasus difteri di wilayah Provinsi Papua Barat sejak saya bertugas 22 tahun yang lalu. Memang diagnosis pastinya masih menunggu konfirmasi dari Balai Besar Laboratorium Kesehatan Surabaya. Namun, dokter yang merawat anak tersebut meyakini bahwa tanda dan gejala yang dialami anak tersebut menyerupai tanda dan gejala difteri. Untuk menambah pengetahuan kita, mari kita mengenal lebih jauh bakteri penyebab difteri dan pemeriksaan laboratoriumnya.

Difteri adalah sebuah penyakit akut yang disebabkan oleh bakteri Corynebacterium diphtheriae (C. diphtheria). Nama penyakit ini berasal dari bahasa Yunani “diphthera”. Penyakit ini pernah diuraikan oleh Hippocrates pada abad 5 sebelum Masehi. Dan epideminya pernah disebutkan oleh Aetius pada abad 6 Masehi. Bakteri C. diphtheriae pertama kali diamati oleh Klebs pada tahun 1883 dan dikultivikasi oleh Löeffler pada tahun 1884. Antitoksinnya ditemukan pada akhir abad 19, dan toksoidnya dikembangkan pada tahun 1920.

Case Fatality Rate difteri berkisar 5%-10% dengan tingkat kematian yang lebih tinggi (bisa sampai 20%) di antara mereka yang berusia kurang dari lima tahun dan lebih dari 40 tahun. Masa inkubasi difteri adalah 2-5 hari (berkisar 1-10 hari). Difteri bisa menyerang (1) nasal bagian anterior, (2) pharynx dan tonsil, (3) larynx dan (4) kulit.

Corynebacterium diphtheriae dengan pewarnaan Gram

C. diphtheriae adalah bakteri berbentuk batang (basil) gram positif yang bersifat aerobik. Produksi toksin (toxigenicity) hanya terjadi ketika basil terinfeksi (lysogenized) oleh sebuah virus yang spesifik (bacteriophage) yang membawa informasigenetik untuk toksin (toxgene). Hanya strain yang toksigenik yang dapat menyebabkan penyakit yang berat.

Medium tellurite yang digunakan untuk kultur Corynebacterium

Kultur organisme membutuhkan media selektif yang mengandung tellurite. Jika terisolasi, organisme harus dibedakan di laboratorium dari spesies Corynebacterium lainnya yang secara normal hidup di nasopharynx dan kulit (sebagai contoh diphtheroids).

C. diphtheriae memiliki empat biotipe yaitu gravis, intermedius, mitis dan belfanti. Semua strain bisa memproduksi toksin dan dapat menyebabkan penyakit yang berat. Semua isolat dari C. diphtheriae harus diuji toksigenisitasnya.

Usapan pharyngeal diperlukan untuk penegakan diagnosis difteri secara laboratorium

Diagnosis difteri biasanya dibuat berdasarkan klinis, karena penting sekali untuk memulai terapi presumptive dengan cepat. Kultur dari lesi dilakukan untuk mengkonfirmasi diagnosis. Adalah hal yang kritis untuk mengambil usapan (swab) dari area pharyngeal, khususnya area yang berubah warna, mengalami ulserasi dan tempat-tempat tersembunyi di tonsil. Medium kultur yang mengandung tellurite lebih disukai, karena memberikan keuntungan selektif untuk pertumbuhan organisme ini. Jika basil diphtheria terisolasi, maka mereka harus diuji untuk produksi toksinnya.

Bentukan seperti “alat pemukul” adalah bentukan khas yang bisa dijumpai dalam pewarnaan Gram

Lempeng agar darah juga dapat menginokulasi untuk deteksi Streptococcus haemolytic. Pewarnaan Gram dan pewarnaan Kenyon material dari membran dapat sangat menolong dalam usaha untuk mengkonfirmasi diagnosis klinis. Pewarnaan Gram mungkin memperlihatkan banyak bentukan “alat pemukul” yang kelihatan seperti huruf-huruf Cina.  Spesies Corynebacterium lainnya (diphtheroids) yang dapat secara normal hidup di tenggorokan dapat membingungkan interpretasi pada pewarnaan langsung. Namun demikian, penanganan harus dilakukan, jika klinis difteri sudah diduga, walaupun tidak dapat dilakukan pewarnaan Gram.

Löeffler slant

alam kondisi di mana terapi antibiotika telah diberikan sebelumnya yang mungkin dapat mengganggu sebuah kultur positif pada sebuah kasus yang diduga difteri, tiga sumber bukti dapat digunakan untuk diagnosis presumptive: (1) uji Polymerase Chain Reaction (PCR) untuk toxgene difteri, (2) isolasi C. diphtheriae dari kultur spesimen kontak dekatnya, atau (3) titer antibodi nonprotective difteri yang rendah (kurang dari 0,1 IU) dalam serum yang diperoleh mendahului pemberian antitoksin. Ini membutuhkan beberapa hari. Untuk mengisolasi C. diphtheriae dari karier, baik untuk menginokulasi usapan (swab) tenggorokan pada slant Löeffler atau Pai. Setelah masa inkubasi 18-24 jam, pertumbuhan dari slant digunakan untuk menginokulasi sebuah medium yang mengandung tellurite.

Difteri termasuk salah satu penyakit yang saat ini dapat dicegah dengan imunisasi. Imunisasi sesuai program pemerintah dengan cakupan yang setinggi-tingginya diperlukan untuk mencegah terulangnya kematian akibat difteri pada anak lainnya di Papua Barat. Saya mengajak kepada segenap masyarakat Papua Barat agar membawa anak-anaknya untuk diimunisasi ke Puskesmas. Kesadaran masyarakat akan pentingnya imunisasi sangat dibutuhkan. Kualitas pengelolaan vaksin dan kualitas pemberian imunisasi perlu dijaga sesuai Standar Operasional Prosedur (SOP).

Sumber: Centers for Disease Control and Prevention, Epidemiology and Prevention of Vaccine-Preventable Diseases, 13th Edition.

-DoVic 290918-

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *